Anggota Kube Keluarga Harapan Asembagus saat proses produksi kripik pisang. Medcom.id/Amaluddin
Anggota Kube Keluarga Harapan Asembagus saat proses produksi kripik pisang. Medcom.id/Amaluddin (Amaluddin)

Kripik Pisang untuk Bangun Ekonomi Warga

umkm kisah inspiratif
Amaluddin • 19 Januari 2019 15:11
Probolinggo: Program pemerintah bernama Kelompok Usaha Bersama (Kube) membuahkan hasil. Salah satunya KUBE Keluarga Harapan Asembagus, di Dusun Sampitan, Desa Asembagus, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
 
Ketua Kube Keluarga Harapan Asembagus, M. Taufik, mengatakan Kube yang dipimpinnya fokus pada usaha mengelola kripik pisang. Usaha ini dipilih lantaran kripik pisang tidak terbatas oleh waktu, alias bukan musiman.
 
"Makanya saya memilih kripik pisang ini, karena bukan musiman seperti makanan sukun, dan lainnya. Kalau pisang ini kan tidak musiman, jadi produksinya bisa menjangkau kemana-mana," kata Taufik, kepada Medcom.id, di sela proses pengolahan kripik pisang di kediamannya, Sabtu, 19 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kube Keluarga Harapan Asembagus terdiri dari 10 anggota. Mereka didominasi ibu-ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan. "Saya sangat bersyukur dengan adanya program pemerintah Kube ini, dalam hal ini Kementerian Sosial (Kemensos). Karena program tersebut dapat mengurangi pengangguran," ujarnya.
 
Untuk menjalankan usaha ini, kelompok kerja ini mengajukan proposal ke Dinas Sosial (Dinsos) daerah setempat, lalu ditembusi ke Kemensos. Kata Taufik, Kube yang dipimpinnya sudah berjalan sejak tahun 2018.
 
"Kami mendapat bantuan modal usaha dari Kemensos sebesar Rp25 juta per kelompok," kata bapak dua anak itu.
 
Untuk ekonomi anggota
 
Dana bantuan itu, lanjut Taufik, ia gunakan untuk beli alat-alat berupa tabung gas, dua seat kompor, dua mesin perekat, wajan, dan bahan baku seperti pisang, minyak, plastik, gula, pewarna kripik, dsb. Hasilnya, kripik pisang bisa empat kali produksi selama sepekan, atau 16 kali produksi dalam sebulan.
 
"Alhamdulillah, omsetnya mencapai sekitar Rp1,5 juta per pekan," katanya.
 
Omset tersebut, kata Taufik, kemudian dibagi ke 10 anggota Kube Keluarga Harapan Asembagus. Masing-masing anggota mendapat komisi Rp70-100 ribu sekali produksi.
 
"Pendapatan itu tergantung hasil produksi, semakin banyak pesanan, maka semakin besar," katanya.
 
Saat ini, produk kripik pisang yang diolahnya sudah dijual hingga ke berbagai daerah di Jatim, mulai dari Banyuwangi, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, Madura, bahkan penjualan tembus ke Bali. Kripik pisang dipatok harga sebesar Rp4.500 hingga Rp5.000 per bungkus.
 
"Tapi untuk penjualan ke Bali sudah berhenti. Karena terkendala ongkos transportasi semakin mahal. Jadi saat ini pemasaran hanya di daerah-daerah di Jatim," ujarnya.
 
Pengolahan kripik pisang mengalami kendala dalam beberapa bulan terakhir ini. Faktor cuaca musim hujan membuat pasokan bahan baku pisang berkurang. "Biasanya dalam sebulan menghabiskan dana Rp5 juta untuk bahan baku, sekarang berkurang sekitar Rp3 juta," katanya.
 
Selain itu, keterbatasan lahan untuk produksi juga menjadi kendala. Sebab, kata Taufik, selama ini kelompok Kube memproduksi kripik pisang bertempat di salah satu rumah warga setempat.
 
"Harapannya ke depan, pemerintah setempat atau Kemensos mau membantu memfasilitasi menyediakan tempat untuk produksi. Karena selama ini, kami menggunakan rumah sebagai tempat mengolah kripik pisang," kata Taufik.
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi