Upaya Produk Kulit Sidoarjo Kembali Berjaya
Sudut di galeri Industri Tas dan Koper (Intako) yang menjual produk berbahan kulit khas Tanggulangin, Sidoarjo, Medcom.id - Hadi
Sidoarjo: Produk berbahan kulit menjadi komoditas khas Sidoarjo, Jawa Timur. Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako) pun memanfaatkan kekhasan itu untuk kembali berjaya dan menembus pasar internasional.

Kecamatan Tanggulangin dikenal sebagai pusat produksi komoditas berbahan kulit. Seperti tas, koper, dompet, ikat pinggang, dan topi. Perajin pun menularkan keahlian mereka mengolah kulit menjadi barang bernilai ekonomi pada anak-anak mereka.

Koperasi Intako pun dibentuk untuk menjadi wadah para perajin memasarkan hasil karya mereka. Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia menjadi pasar yang diincar.


Ketua Intako Ainur Rofiq mengatakan koperasi itu sudah ada sejak 1975-an. Kerajinan kulit Tanggulangin sempat berjaya di era 1980 hingga 2000-an. Wisatawan terus berdatangan ke Tanggulangin. Ainur bercerita omzet di masa itu menembus lebih Rp1 miliar per bulan.


(Bagian depan Intako, galeri yang memasarkan produk berbahan kulit dari perajin di Tanggulangin, Sidoarjo, Medcom.id - Hadi)

"Sehari, bisa tujuh sampai delapan bus (travel) yang masuk ke sini. Lain halnya dengan pengunjung lain dari Sidoarjo dan sekitarnya," kisah Aunir ditemui di Kecamatan Tanggulangin, Senin, 22 Oktober 2018.

Masa keemasan itu redup setelah lumpur panas di Porong, Sidoarjo, meluap pada 2006. Jarak pusat semburan lumpur ke Tanggulangin kurang lebih empat kilometer. Jadi, dampak semburan tak dirasakan langsung oleh perajin.

"Tapi industri kulit gulung tikar. Pekerja mencari-cari pekerjaan baru. Utang pemilik usaha di bank menunggak. Sampai-sampai mereka menjual tanah untuk menutupi dampak tersebut, tapi tanah tak laku," ungkap Aunir.

Tiga tahun setelah kejadian itu, harapan muncul. Pemerintah membangun jalan lingkar atau ringroad di sekitar Tanggulangin. Bus travel kembali melintas. 

Koperasi dan warga menghidupkan kembali industri komoditas kulit. Kemajuan teknologi dan informasi pun dimanfaatkan. Penjualan dilakukan secara daring atau online.

Sembilan tahun berlalu, upaya itu mulai menunjukkan hasil. Pendapatan koperasi mencapai Rp600 juta per bulan dari penjualan komoditas kulit anggota lembaga tersebut. Meski besaran omzet masih jauh dari masa kejayaannya, Aunir yakin industri kulit di Tanggulangin akan bangkit. 

Intako menjadi wadah untuk 276 pengusaha pembuat tas dan koper berbahan kulit. Para pengusaha memiliki sejarah terkait usaha tersebut. 


(Seorang warga melihat sepatu berbahan kulit yang menjadi produksi khas Tanggulangin, Sidoarjo, di galeri Intako, Medcom.id - Hadi)

Tak mau melupakan sejarah, Intako berencana membangun museum pembuatan tas dan koper Tanggulangin. Tujuannya, Tanggulangin menjadi tujuan wisata belanja, budaya, dan edukasi.

Intako menggandeng Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Pemda Sidoarjo untuk melaksanakan program Revitalisasi Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Tanggulangin. Bahkan, ujar Aunir, Kemenperin berencana memberikan bantuan Rp10 miliar dalam program tersebut.

Sembilan lokasi menjadi target revitalisasi. Di antaranya area pejalan kaki (pedestarian); kursi taman, tugu tas, story board; Gapura Kampung Tanggulangin; Tugu Tanggulangin; Story' board dan Mural; Taman Budaya dan Kuliner; Workshop Pengrajin; dan Moda Transportasi Kawasan Wisata. 

"Jadi, selain menjual produk berbahan kulit, keberadaan museum di Intako sangat diperlukan sebagai penunjang wisata edukasi bagi pengunjung," papar Ainur Rofiq, Selasa, 23 Oktober 2018. 

Museum, salah satu poin dalam program itu, ditempatkan di lantai dua gedung Intako yang terletak di Desa Kedensari, Kecamatan Tanggulangin. Lantai pertama akan direnovasi dengan berbagai macam produk hasil pengrajin kulit, baik sepatu, tas, jaket, topi, dan beraneka ragam aksesoris. 

Selain berkunjung, wisatawan bisa menikmati proses produksi, pelatihan, manajemen koperasi, bahkan wisatawan juga bisa belajar banyak tentang sejarah. "Ke depan, industri tas dan koper di Sidoarjo bisa menjadi miniatur Tanggulangin Sidoarjo," ujar Ainur.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id