Soekarwo menilai India punya banyak keungulan. Di antaranya tekstil, otomotif dan digitalisasi. Karena itu, Pakde Karwo, demikian ia disapa, berharap neraca perdagangan Jatim-India meningkat/
"Jatim sendiri saat ini mengembangkan sebagai smart province, yang dicapai melalui smart goverment, smart industri, dan ekonomi," kata Pakde Karwo.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Smart goverment, lanjut dia, dicapai melalui penyediaan informasi dan data serta pelayanan publik berbasis teknologi, dan industri. Untuk industri, dilakukan penggenjotan industri manufaktur. Utamanya industri pengolahan sebagai sektor yang berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim .
"Saat ini telah beroperasi 10 kawasan industri. Diantaranya kawasan industri JIIPE, Tuban dan Maspion," katanya.
Investasi India di Jatim tercatat mencapai US$792,36 juta (Rp10,85 triliun) dengan total 67 proyek. Beberapa sektor investasi pengusaha India di Jatim meliputi metal, mesin dan elektronik, perdagangan dan reparasi, serta industri makanan dan minuman.
Sementara itu, ekspor Jatim ke India, khususnya pengolahan logam berkontribusi 88,8% dari nilai total ekspor Jatim ke India. Ekspor Jatim sendiri ke India sebesar US$585,59 juta (Rp8,02 triliun) pada tahun 2017.
Pemprov Jatim memberi empat jaminan kemudahan bagi para pebisnis India yang bersedia berinvestasi dan berbisnis di Jatim. Fasilitasi perizinan, ketersediaan tenaga terampil, pengadaan tanah dan kecukupan energi listrik.
"Politik dan keamanan di Jatim senantiasa stabil, dan menjadi barometer nasional," ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk India, Sidharto Reza Suryodipuro, turut mendorong pengusaha India lebih banyak berinvestasi dan berbisnis di Jatim. Jatim disebutnya sebagai satu provinsi penting dan terbesar di Indonesia.
Peningkatan investasi dan perdagangan sangat dimungkinkan karena didukung hubungan baik antar dua negara, termasuk politik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
