"Saya pikir kebijakan ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kemajuan ekonomi masyarakat Madura. Sebab belum ada industri massif di Madura, sejauh ini," terang Wakil Bupati Bangkalan, Mondir A Rofii, Kamis (4/2/2016).
Mondir justru berpendapat, kebijakan menurunkan tarif tol jembatan Suramadu, akan membuat masyarakat Madura lebih mudah membelanjakan uangnya di Surabaya. "Ini, kan, tidak baik bagi perkembangan ekonomi di Madura," imbuh Mondir.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Atas kondisi itu, ke depan, Pemkab Bangkalan mengaku akan sulit membendung arus konsumtif tersebut. Pemkab hanya bisa sebatas mengimbau masyarakat untuk tidak konsumtif. Sehingga, uang yang beredar di Madura tak banyak keluar, dan dampak inflasi bisa ditekan.
"Kami pastinya tidak bisa membendung budaya konsumtif masyarakat. Tarif belum diturunkan saja banyak masyarakat belanja ke Surabaya. Apalagi, sudah diturunkan," sesalnya.
Rabu 3 Februari, pemerintah melalui rapat terbatas kabinet memutuskan penurunan tarif tol Jembatan Suramadu. Presiden berpesan agar besarnya tarif diturunkan minimal 50 persen.
Di tarif lama, truk besar dikenai biaya Rp90 ribu sekali melintas Surabaya-Madura atau sebaliknya. Truk sedang Rp60 ribu, dan sedan Rp30 ribu. Langkah itu diambil agar perekonomian masyarakat sekitar Jembatan Suramadu, khususnya warga Madura, dapat lebih baik.
Jembatan Suramadu memiliki total panjang 5.438 meter dengan lebar 30 meter. Jembatan yang melintasi selat Madura itu diresmikan 10 Juli 2009.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
