"Sedangkan di 2016 mulai Januari sampai Februari, peredaran uang palsu di Jatim sebanyak 3.154 lembar," ujar Kepala Divisi Sistem Pembayaran, Komunikasi, dan Layanan Publik Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jatim, Hestu Wibowo, di Surabaya, Kamis (25/2/2016).
Hestu menduga, peredaran uang palsu alias upal pada dua bulan terakhir, berasal dari sisa dana serangan fajar pada pemilihan kepala daerah serentak Desember 2015. "Tapi untuk memastikan itu kami masih koordinasi dengan pihak kepolisian," katanya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Hestu mengatakan, peredaran upal itu terjadi di tiga tempat. Yaitu di Bandar Udara International Juanda Surabaya, Terminal Bungurasih, dan Blitar. Upal yang di Juanda semula akan dikirim oleh seseorang asal Jember melalui ke Bangka Belitung.
Sementara upal yang di Terminal Bungurasih merupakan hasil penggeledahan pihak kepolisian di salah satu losmen. Sedangkan yang di Blitar, ditemukan dari seseorang yang mengirimkan uang lewat pos. Uang palsu disisipkan dalam kiriman uang asli.
Sayangnya, Hestu tidak merinci berapa jumlah dari masing-masing tempat tersebut. Dia hanya mengatakan kualitas uangnya sangat buruk. "Kalau kami beri nilai kualitas uangnya level tiga," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
