Bom Batal Diledakkan karena Perempuan Berjilbab
Abdurrahman Taib, mantan narapidana teroris, Medcom.id - Daviq Umar
Malang: Abdurrahman Taib bersiap menekan alat pemicu untuk meledakkan bom di sebuah kafe di Bukittinggi, Sumatera Barat. Namun niatnya urung. Seorang perempuan berjilbab memasuki kafe menggagalkan niat Taib untuk meledakkan bom.

Itu beberapa tahun lalu ketika Taib masih menganut paham radikalisme. Saat itu, Taib berpikir meledakkan bom bunuh diri berarti jihad. 

"Yang saya ketahui, hal yang tertinggi adalah jihad. Sehingga orang yang mati dalam berjihad masuk surga," kisah Taib saat berbagi kisah dan pengalamannya kepada ratusan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Lowokwaru, Malang, Jawa Timur, Rabu, 6 Juni 2018.


Pemahaman itu membuat Taib menyesal. Taib berharap pengalaman dan penyesalannya menjadi contoh agar tak ada lagi warga yang bergabung dengan terorisme.

Taib pernah memimpin kelompok teroris jaringan Palembang, Sumatera Selatan, yang berafiliasi dengan Noordin M Top. Pada 2009, Taib divonis hukuman 12 tahun penjara setelah melakukan beberapa teror. Ia berperan sebagai eksekutor dalam pembunuhan berencana terhadap pendeta Dago Simarmora. Tapi enam tahun kemudian, Taib bebas bersyarat.

Pria yang kini berjualan nasi dan mi goreng itu menceritakan pengalaman terjun menjadi teroris. Berkenalan dengan buron kasus terorisme asal Singapura menjadi awal mula dirinya masuk ke jaringan terorisme. Taib mengingat-ingat, perkenalan itu terjadi pada 2004.

Sejak itu, Taib diajari tentang jihad. Paham radikal pun menyusup ke pikiran dan relung hatinya.

Saat itu, lanjut pria berusia 45 tahun itu, ia masih awam soal ajaran Islam. Ia pun 'menelan' mentah-mentah paham jihad.


(Mantan narapidana teroris Abdurrahman Taib berbagi kisahnya kepada narapidana Lapas Malang, Rabu, 6 Juni 2018, Medcom.id - Daviq Umar)

"Apa yang dia sampaikan, saya tidak pernah membantah, karena saya tidak paham tentang jihad. Apapun yang disampaikan tentang jihad saya terima," kata Taib yang kini tinggal di kampung halamannya di Kecamatan Suka Rame, Kota Palembang. 

Paham radikal mengalir dalam dirinya. Tekadnya kuat meraih surga melalui jihad dan aksi teror.

Setahun kemudian, Taib memimpin jaringan teroris kelompok Palembang. Ia memenuhi undangan bertemu dengan gembong terorisme, Noordin M Top, di Cilacap.

Noordin M Top merupakan gembong terorisme yang bertanggung jawab atas sejumlah aksi pengeboman di Indonesia, termasuk di Mega Kuningan pada Juli 2009. Noordin tewas dalam penyergapan di Jebres, Solo, pada 2009.

"Setelah saya berkenalan dengan Noordin, saya diajari cara membuat bom. Macam-macam bomnya. Ada tupperware dan pipa. Tinggal variasi saja," tambahnya.

Taib mengaku gampang merakit bom. Ia mengaku merakit lebih 25 bom di Palembang. Ia tak sendiri. Ia bekerja sama dengan beberapa temannya.

"Kalau diledakkan, lumayan juga daya ledaknya," ungkap Taib.

Taib mengaku pernah hendak meledakkan bom di sebuah kafe di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia bersiap untuk menekan remote control untuk meledakkan bom. Namun niatnya gagal karena seorang perempuan berjilbab memasuki kafe. 

Waktu itu, ia bermaksud meledakkan bom di kafe yang kerap dikunjungi warga negara asing. Bagi Taib dan jaringannya, warga asing adalah kafir.

Noordin M Top dan jaringan yang berafiliasi dengan kelompok radikal Al Qaeda menganggap orang kafir pantas dibunuh. Termasuk, warga Amerika Serikat.

Taib menunggu beberapa saat di dalam kafe. Tapi perempuan berjilbab itu tak kunjung keluar dari kafe.

"Aksi itu pun dibatalkan. Sebab, perempuan itu saudara muslim. Besoknya kami coba lagi, dan gagal lagi," terang Taib.

Mengajar mengaji jadi titik balik

Kelompok Palembang ditangkap dalam penggerebekan 2 Juli 2008. Dalam penggerebekan itu, Detasemen Khusus 88 Anti Teror menemukan 20 bom, yang 16 bom diantaranya siap diledakkan.

Aksi Taib berhenti setelah Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkapnya pada 2 Juli 2008. Densus menemukan 20 bom saat menangkap Taib dan kelompoknya. Sebanyak 16 bom siap diledakkan. 

Mendekam di dalam sel, lanjut Taib, tak mudah mengubah pola pikir orang-orang yang sudah terpapar aliran radikal. Dirinya pun maju mundur untuk melepaskan paham tersebut.

Suatu hari, Taib bertemu dengan Farid Junaedi, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Lapas Merah Mata Palembang. Di situlah, Taib ditahan. Kini, Farid bertugas sebagai Kepala Lapas Klas I Lowokwaru Malang.

"Pak Farid ini mendekati kami (narapidana teroris). Sehingga kami menganggap sebagai manusia yang dimanusiakan," katanya.

Awalnya, Farid meminta Taib untuk mengajarinya mengaji. Taib trenyuh. Kekerasan pemikirannya soal aksi radikal pun luluh. Kesungguhan Farid untuk belajar seolah menjadi titik balik Taib untuk meninggalkan pemahaman radikal. 

"Saya belum pernah mengamalkan mengaji sehari satu jus (Al Quran). Dia bisa sehari satu jus. Saya gurunya kok tidak bisa. Beliau ini Kalapas kemudian mengajinya baik, salatnya baik, tahajud pula," katanya.

Saat ini, Taib mengaku bersyukur lepas dari pemahaman radikal. Ia kini membuka usaha kuliner di kampung halamannya di Palembang bersama istri dan lima anaknya.



(RRN)