Polres Lumajang Ajak Siswa MTs Mewaspadai Hoaks
Suasana upacara di MTsN Lumajang bersama Polres Lumajang tentang penyebaran hoaks, Sabtu (1/12). Foto: Istimewa
Jakarta: Polres Lumajang, Jawa Timur membekali para siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Lumajang, Jawa Timur terkait maraknya penyebaran hoaks di Indonesia. Para siswa harus bisa memilah informasi yang masuk ke ponsel pintar mereka.

Paur Subag Humas Polres Lumajang Ipda Catur Budi Bhaskoro mempimpin langsung upacara di MTsN Lumajang. Dalam kesempatan itu, Ipda Catur menerangkan, para siswa perlu mewaspadai informasi palsu atau berita hoaks yang menyebar di media sosial. 

Para siswa juga harus bisa mengetahui mana berita yang kevalidannya dipertanyakan, berita yang banyak membuat orang tertipu dan juga menghebohkan suasana. Sebab, menurut dia, tujuan penyebaran hoaks adalah menimbulkan sensasi guna menggemparkan suasana yang awalnya damai. 


"(Itu yang dilakukan) penyebar berita bohong (hoaks), penyebar isu sara, dan ujaran kebencian. Kalian jangan sampai terjebak ke dalam pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE," kata Catur, Sabtu, 1 Desember 2018.

Ia meminta para siswa dapat memanfaatkan ponsel pintar mereka dengan baik, khususnya terkait dengan pembelajaran di sekolah. "Gunakan semaksimal mungkin untuk memudahkan kita belajar dan menimba ilmu," tuturnya.

Sementara itu, Kapolres Lumajang AKBP Muhamad Arsal Sabhan mengatakan, hoaks perlu mendapat perhatian lebih. Tidak hanya itu, menurut dia, di zaman sekarang, perlu pengertian yang mendalam mengenai penggunaan ponsel pintar, karena di pelbagai usia dapat mengakses ponsel pintar.

Baca: Jokowi: Perangi Hoaks Bersama Medcom.id

Oleh karena itu, kata dia, perlu adanya perhatian kusus agar tidak terjajah oleh perkembangan zaman, melainkan dapat mengikuti bahkan mengejar perkembangan zaman. Masyarakat juga harus lebih jeli dalam membaca berita di media massa maupun media online.

Pihaknya juga bakal membina masyarakat terkait hoaks untuk mencegah kericuhan dan konflik horizontal. Pasalnya, bukan tdak mungkin dua hal tersebut dipicu dar penyebaran hoaks di tengah masyarakat.

"Kita perlu melakukan pembinaan dan penyuluhan mengenai hoaks untuk mencegah kericuhan dan konflik horizontal yang diakibatkan berita bohong dan ujaran kebencian yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," ucap Arsal.



(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id