Bocah di Balik Gorden Rumah Terduga Teroris
ilustrasi-medcom.id
Malang: Dua bocah perempuan berada di dalam rumah dengan pintu depan ditutup rapat, dikunci dari dalam. Pintu pagar besi rumah berlantai dua itu terbuka. Hanya terlihat sepatu dan sandal tertata di rak depan pintu. Listrik pun mati. Tampak depan seperti rumah tidak berpenghuni.

Siapa sangka, dua bocah berada di kamar lantai dua, tanpa ditemani orangtua. Mereka sesekali mengintip dari balik gorden jendela kaca nako. Tidak terlihat jelas wajah keduanya.

Kedua bocah itu, yakni FHK,13, dan SZK,8. Mereka anak perempuan dari suami istri, SW, 37, dan KR, 40. Keluarga itu mengontrak rumah di RT 26 RW 9 Dusun Turirejo, Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sejak setahun terakhir.


Dari luar rumah, tidak terlihat jelas apakah FHK atau SZK yang sedang mengintip. Hanya kain gorden saja yang bergerak pelan, seukuran sebelah bola mata.

Setiap ada orang atau bunyi kendaraan bermotor di depan rumah, gorden bergerak lagi. Si bocah berusaha mengintip. Beberapa kali hal itu dilakukan.

Baca: Polisi: Anak Terduga Teroris Jangan Disamakan dengan Pelaku

Keduanya berusaha melihat ke luar rumah bermaksud tanpa bisa dilihat orang lain. Setelah itu, gorden ditutup lagi. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Mungkin, berharap orangtuanya yang pulang.

Tapi, selepas hujan deras sore itu, kedua orangtuanya tak kunjung pulang, lantaran ditangkap oleh tim Densus 88 Antiteror.

Sebelum menggerebek rumah mereka, petugas mengamankan ayah dari kedua anak itu, KR, warga Sumbersari Gang IV/259 Kota Malang. Setelah penggeledahan sejak pukul 12.00 WIB sampai 14.30 WIB, sang ibu, SW, juga ikut ditangkap. Sontak, di rumah hanya tertinggal kedua anak itu.

Menurut warga sekitar, petugas membawa dua kardus dari rumah itu. Warga juga melihat petugas mengamankan dua perempuan dan dua pria.

Baca: Kalla Prihatin Teror Bom Surabaya Libatkan Anak-anak

Sejauh ini belum ada konfirmasi resmi dari polisi apakah mereka terduga teroris atau bukan. Termasuk barang bukti apa saja yang disita.

"Kasihan anak-anak itu, sudah makan apa belum ya. Tadi saya mengetuk pintu, tapi tidak ada respon dari dalam," tegas Ketua RT 26 RW 9 Dusun Turirejo, Desa Kepuharjo, Nurhadi kepada Media Indonesia, Selasa 15 Mei 2018.

Nurhadi dan warga setempat hanya bisa prihatin, sembari berharap kedua bocah bersedia membuka pintu rumah untuk menerima makanan. 

"Anak-anak itu hanya mengintip untuk melihat ke luar rumah. Lihat itu tandanya gorden bergerak-gerak," tegasnya.

Sementara itu, warga yang rumahnya berdempetan maupun di depan rumah kontrakan tersebut, juga terus mengamati meski hanya sekadar melihat jendela. 

Aktivitas kedua bocah dipantau dari gorden yang sesekali bergerak, sehingga mengesankan saling intip.

Bagi warga setempat, keluarga itu sangat tertutup. Bahkan tidak pernah bergaul dengan tetangga, apalagi mengikuti kegiatan sosial di kampung. Saban hari, pintu rumah lebih sering ditutup rapat.

Anak-anaknya pun tidak sekolah. Belanja sayur dan keperluan rumah tangga, kerap menyuruh anaknya.

"Ibu kedua anak itu mengenakan cadar. Pekerjaan yang laki-laki penjual tahu susu," kata Ibu Elia, tetangga yang rumahnya berdempetan dengan rumah kontrakan tersebut.

Elia mengungkapkan, kedua anak dari keluarga tertutup tersebut sempat ke luar rumah, meski sangat jarang. Biasanya untuk bermain dengan anak-anak di kampung tersebut, tapi tak lama. Kedua bocah segera diminta masuk rumah lagi.

Padahal mereka masih suka bermain, sama seperti anak-anak pada umumnya. Namun, secara psikologis seperti kurang bebas karena orangtuanya yang membatasi.

Khoirul Anwar, mengatakan sejak dua bulan terakhir hingga Sabtu, 12 Mei lalu, di rumah kontrakan yang dihuni SW, dan KR, serta dua anaknya, sering terdengar suara gaduh.

"Seperti orang bekerja memukul besi," tegasnya.

Tamu terakhir yang datang ke rumah itu, lanjutnya, sekitar dua pekan lalu. Sejumlah orang mengendarai mobil, berselang beberapa hari kemudian ada lagi yang datang naik motor. Ia kerap menjumpai tamu sembari membawa tas ransel. Setelah menaruh tas itu, lantas pergi lagi.

Hingga saat ini, rumah itu masih tertutup rapat. Kedua bocah itu pun tetap bertahan di dalam rumah. Mereka belum mau membuka pintu. Berulang kali mengintip dari balik gorden jendela kaca nako.



(LDS)