Kenaikan Suku Bunga Diharapkan Dapat Stabilkan Nilai Rupiah
Anggota DPR-RI Komisi XI, Andreas Eddy Susetyo saat di Malang. (Foto: Daviq Umar Al Faruq, )
Malang: Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin (bps) atau menjadi 5,25 persen. Keputusan suku bunga ini berlaku efektif sejak 29 Juni 2018.

Menanggapi itu, anggota DPR Komisi XI Andreas Eddy Susetyo mengatakan kenaikan suku bunga sebagai langkah lanjutan dari kebijakan yang telah diambil oleh bank sentral dalam beberapa bulan terakhir.

"Bank sentral Amerika Federal Reserve System telah meningkatkan suku bunganya dan kalau kita lihat penguatan dolar itu terjadi di mana-mana, itu bisa kita lihat dari indeks dolar. Indeks dolar itu juga menguat gitu ya," katanya di Malang, Senin, 9 Juli 2018.


Andreas mengungkapkan Indonesia terkena dampak dari negara lain pada globalisasi pasar. Sebab, negara lain dinilai lebih menguntungkan secara ekonomi, sehingga uang akan mengalir ke negara lain dibanding ke Indonesia atau bisa disebut capital inflow.

"Nah sekarang itu pada keluar karena perbedaan tingkat bunga sehingga dengan penyesuaian tingkat bunga ini diharapkan dana-dana itu kembali kepada Indonesia. Sehingga dengan demikian bisa menstabilkan nilai tukar rupiah," bebernya.

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut mengatakan, saat ini adalah era suku bunga ketat. Sebab diakuinya, Federal Reserve System akan meningkatkan tingkat bunga sebanyak dua kali sampai dengan akhir tahun ini.

"Ini yang harus kita antisipasi. Nggak bisa mengandalkan hanya kepada Bank Indonesia sendiri. Karena ini sudah menyangkut suatu bauran kebijakan," ungkapnya.

Pria asal Malang ini menilai, seharusnya ada effort bersama antara kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan kebijakan sektor real terutama reformasi struktural. Sebab, inti permasalahan ini ada di defisit transaksi berjalan di Indonesia.

"Kita tahu Mei lalu ternyata defisit transaksi perdagangan kita juga naik itu sekitar USD1,5 miliar. Kan belum defisit jasa-jasa dan Juni itu biasanya sesuai siklus kan juga saatnya pembayaran utang dan juga pembayaran dividen," ungkapnya.

Oleh karena itu, Andreas mengaku saat ini yang perlu dilakukan Pemerintah adalah meningkatkan pemasokan dolar. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong ekspor serta meningkatkan penerimaan devisa dari sektor pariwisata. 

"Itu yang harus digenjot. Kalau dari sisi pengeluaran, ya mau enggak mau sebetulnya harus juga dipikirkan restorasi dari proyek-proyek pemerintah yang impor kontennya banyak," pungkasnya.




(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id