Rektor Unbraw Muhammad Bisri membenarkan adanya fenomena tersebut. Namun, dia mengaku bahwa hanya sedikit mahasiswanya yang terpapar paham radikalisme.
"Mereka ini gerakannya agak susah terdeteksi. Enggak kelihatan mereka. Pintar mereka memang," kata dia.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Bisri menjelaskan, ada beberapa organisasi ekstra kampus di kampusnya, seperti HMI, PMII, KAMMI, GMNI, IBNU, dan sebagainya. Sejumlah organisasi tersebut dapat dideteksi keberadaanya.
"Kalau HMI, PMII dan lain-lain itu kan terekspose. Perekrutan mereka kelihatan dan enggak masalah. Tapi mereka (gerakan radikalisme) itu hebatnya perekrutannya tak diketahui," ungkapnya.
Padahal, Bisri mengungkapkan pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk menanggulangi masuknya paham radikalisme ke wilayah kampus. Salah satunya lewat penguatan karakter dan pengawasan.
"Semua sudah kita lakukan dan kita petakan. Pengawasan mading-mading juga sudah kami lakukan. Apabila ada, wakil rektor tiga langsung menurunkan wakil dekan tiga nya untuk langsung ditelusuri," tegasnya.
Bahkan UB pun juga meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk menelusuri pergerakan kelompok kelompok radikalisme di kalangan mahasiswanya. Terutama di luar kampus.
"Yang di luar kampus itu kita meminta bantuan intel untuk melihat pergerakan mereka. Jadi setiap ada pergerakan itu saya tahu dari intel polres," kata dia.
BNPT beberapa waktu lalu menyebutkan terdapat tujuh kampus ternama di Indonesia yang terpapar radikalisme.
Selain UB, juga ada Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Insitut Teknologi Surabaya (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
