Slamet, petani yang masih bertahan dan mempertahankan lahan pertanian di Desa Gendangrowo, Sidoarjo, Medcom.id - Hadi
Slamet, petani yang masih bertahan dan mempertahankan lahan pertanian di Desa Gendangrowo, Sidoarjo, Medcom.id - Hadi (Syaikhul Hadi)

Petani Gandeng Perusahaan untuk Pertahankan Lahan Pertanian

Sosok Inspiratif
Syaikhul Hadi • 16 Januari 2019 16:00
Sidoarjo: Kerja sama menjadi cara Slamet untuk mempertahankan lahan pertanian di desanya di Sidoarjo, Jawa Timur. Dulu warga hanya menanam padi. Sekarang mereka terbuka untuk menanam jagung, jahe, dan cabai.
 
Slamet merupakan satu dari enam petani yang masih bercocok tanam di Desa Gendangrowo, Kecamatan Prambon, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia mengaku banyak rekannya yang beralih meninggalkan profesi petani.
 
"Jika bukan dari hasil bertani, nasi yang kita makan didapat dari mana. Tentunya itu tak lepas dari usaha petani," kata Slamet ditemui di desanya di Sidoarjo, Selasa, 15 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Slamet paham betul nasi merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sehingga, peran petani sangat penting.
 
Area lahan pertanian berkurang. Sebab, lahan dialihfungsikan menjadi area industri dan perumahan.
 
"Tampaknya, pertanian sudah tak menggiurkan. Di sini saja, dulu ada 30 petani andal. Sekarang sisa 6 orang. Itupun sudah tua," beber kakek satu cucu itu.
 
Petani Gandeng Perusahaan untuk Pertahankan Lahan Pertanian
(Sawah di Desa Gendangrowo, Sidoarjo, Medcom.id - Hadi)
 
Tapi itu tak meruntuhkan semangat dan idealisme Slamet. Ia dan rekan-rekannya pun membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan pihak manapun. Yang penting, pertanian di desanya tetap hidup.
 
Slamet lalu merintis Gabungan Kelompok Tani di desanya. Di sela-sela mengurusi sawahnya yang berukuran 11 hektare, Slamet juga membantu petani di desanya untuk menyelamatkan pertanian.
 
Selain padi, mereka juga menanam tebu. Bila masa panen sudah usai, mereka memanfaatkan lahan untuk ditanami jagung, jahe, dan cabai. Mereka menggandeng beberapa perusahaan untuk pertanian mereka.
 
Ayah dua putri itu mencontohkan kerja sama dengan sebuah perusahaan jagung. Perusahaan itu memberikan benih jagung. Setelah panen, jagung dijual ke perusahaan itu dengan harga yang telah disepakati.
 
Selain itu, Gapoktan juga membuka diri untuk mendapatkan pelatihan dari Dinas Pertanian. Mereka juga kerap mendapat bantuan berupa traktor tangan dan anggaran untuk meningkatkan produksi. 
 
Mereka, lanjut Slamet, mempertimbangkan kualitas benih, pupuk, hingga ketersediaan air. Semua hal itu, kata Slamet, dipantau Gapoktan.
 
Tanaman padi biasanya membutuhkan waktu hingga empat bulan untuk panen. Setelah panen, petani menjual gabah kering panen seharga Rp4.700 per Kg. Sekali panen, petani di Desa Gendangrowo dapat mengumpulkan Rp4,7 juta per ton.
 
Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) lebih tinggi yaitu Rp6,3 juta per ton. Hal itu sesuai dengan proses yang dilakukan petani untuk menggiling padi selama dua hari. 
 
"Giling itu, mesti lama. Karena harus dipotong dulu atasnya, terus diangkut dari sawah dan dikeluarkan dari pematang. Setelah itu barulah pakai blower (alat pengering). Hanya saja, proses itu membutuhkan waktu yang lama, terlebih musim hujan begini," terangnya. 
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif