Terduga Teroris Sidoarjo Miliki KTP Ganda
Polisi mengevakuasi PNS setelah terjadi ledakan di Mapolrestabes Surabaya, Senin 14 Mei 2018. Foto: Antara/Didik Suhartono
Sidoarjo: Terduga teroris yang ditangkap di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Kota ternyata memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) ganda. Hal itu diduga untuk mengelabuhi identitas pelaku terhadap perangkat setempat. 

Ketua RT setempat Winarno mengatakan, terduga atau Beti, 35 yang digrebek Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror pernah menyerahkan KTP ganda dengan asal kelahiran berbeda. 

"KTP nya ada dua, satunya dari Cirebon, satunya dari Tangerang. Tapi bukti itu sudah saya serahkan ke pihak kepolisian," ucap Winarno, Selasa, 15 Mei 2018. 


Ia membenarkan bahwa Beti pertama kali mengontrak rumah milik Buadi dan Tamsiyah asal Sidoarjo sejak 2014. Ia datang bersama keluarganya delapan orang. 

Baca: Dua Pasang Suami Istri Ditangkap karena Diduga Simpan Bom

"Benar, dia sama keluarganya. Terus enggak lama pindah ke Cirebon. Kalau enggak salah Beti Ernawati namanya," katanya. 

Ia baru menyadari identitas ganda milik Beti saat terduga kembali mengontrak di tempat tersebut setelah rumah tersebut direnovasi pada 2016. "Pernah pindah sementara di Candi. Setelah itu kembali kesini bersama Yanti dan menyerahkan KTP yang lain, yakni dari Tangerang," tegasnya. 

Pihaknya sempat menaruh curiga lantaran Beti mengantongi KTP ganda. Namun, dirinya tidak bisa bertindak lantaran tidak memiliki bukti kuat. Termasuk kegiatan-kegiatan yang mengarah perakitan bom. 

"Kita enggak punya bukti, tapi sekarang sudah kita serahkan semua (ke Polisi)," katanya. 

Baca: Dua Terduga Teroris di Sidoarjo Ditembak

Sedangkan Yanti, yang juga terduga teroris, menurutnya juga pernah menyerahkan KTP beralamatkan Nganjuk. Sementara, kedua pria yang turut ditangkap Densus 88 tidak pernah menyerahkan identitasnya. 

"Yang dua pria itu kita enggak pernah tahu. Dia juga belum pernah memberikan laporan. Kalaupun dia sering menginap di sini, kita juga enggak tahu. Apalagi, informasinya si Yanti itu katanya pernah menikah dengan pria itu. Kita enggak tahu," tambahnya. 

"Hanya saja, waktu itu tetangga disini pernah dikasih syukuran, kalau dia menikah," katanya lagi. 

Menyikapi kejadian ini, pihaknya akan lebih selektif untuk menerima tamu yang indekost maupun ngontrak dikampung nya. Sehingga hal hal yang membahayakan seperti terorisme tidak terjadi lagi. 



(DMR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id