Lion Air Jatuh

Tradisi Warga Dorong Motor Hormati Korban Lion Air

Syaikhul Hadi 02 November 2018 12:13 WIB
Lion Air Jatuh
Tradisi Warga Dorong Motor Hormati Korban Lion Air
Pengendara mendorong sepeda motor saat melintasi rumah Jannatun, korban pesawat Lion Air jatuh, di Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis, 1 November 2018, Medcom.id - Hadi
Sidoarjo: Keramaian tampak di depan rumah keluarga Jannatun Cintya Dewi di Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan hanya pelayat, pengendara yang tak mengenal Jannatun pun memberikan penghormatan terakhirnya kepada korban Lion Air jatuh tersebut.

Pantauan Medcom.id, Kamis, 1 November 2018, pelayat berkumpul di rumah duka. Mereka menantikan kedatangan jenazah Yayas, demikian Jannatun disapa. Yayas merupakan penumpang pertama yang berhasil diidentifikasi dari kecelakaan tersebut.

Di jalan raya, tepatnya di Dusun Prumpon, Desa Suruh, keramaian juga tampak. Karangan bunga berjejer di pinggir jalan.


Namun ada yang menarik perhatian. Pengendara sepeda motor menghentikan kendaraan di radius kurang lebih 50 meter di sisi kiri dan kanan rumah. Pengendara mendorong sepeda motor saat melintasi rumah duka hingga jarak 100 meter.

Baca: Isak Tangis Mengiringi Pemakaman Jannatun Cintia Dewi

Tua muda, laki-laki dan perempuan, pengendara hingga penumpang, beramai-ramai berjalan kaki. Mereka melewati rumah duka dan karangan bunga yang berderet di pinggir jalan.

Ismani, Kepala Desa Suruh, mengatakan kebiasaan itu masih dilakukan warganya. Tujuannya, menghormati keluarga yang tengah berduka.

"Sebagai ungkapan rasa duka yang mendalam bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan," kata Ismani kepada Medcom.id di Desa Suruh, Jumat, 2 November 2018.


(Warga Desa Suruh, Sukodono, Sidoarjo, mendorong sepeda motor saat melintasi rumah duka korban Lion Air, Medcom.id - Hadi)


Warga melakukan itu secara mandiri. Tak ada yang meminta pengendara untuk melakukan hal tersebut. Namun, ada beberapa warga yang berinisiatif mengatur lalu lintas agar perjalanan para pengendara tetap berjalan lancar.

Bukan hanya saat menjelang pemakaman, tradisi itu pun berlangsung hingga tujuh hari kemudian. Biasanya, lanjut Ismani, tradisi itu dilakukan saat keluarga tengah menggelar acara doa bersama.

"Kalau di sini namanya tahlilan. Di sini (Desa Suruh), ketika ada yang berduka, tradisi ini dilakukan," ungkap Ismani.

Menurut Ismani, warga mengenal Yayas dan keluarganya dengan baik. Ibunya aktif dalam komunitas PKK. Jannatun pun dikenal sebagai sosok yang cerdas dan ulet belajar. 

"Sejak bekerja di Kementerian Eenergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yayas jarang terlihat. Tapi dia memang anak yang rajin, cerdas. Kami turut merasa kehilangan," lanjut Ismani.

Jenazah Yayas diidentifikasi melalui kecocokan sidik jari. Setelah identifikasi, petugas menerbangkan almarhumah ke rumah duka. Perwakilan dari Kementerian ESDM turut mendampingi pemulangan almarhumah. Korban dikebumikan di tempat pemakaman umum tak jauh dari rumah duka.

Korban, merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bambang Supriadi dan Surtiyem. Sarjana lulusan Teknik Kimia Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) Surabaya tersebut diketahui merupakan salah satu staff analis Kegiatan Usaha Hilir Migas, Ditjen Migas Kementerian ESDM.

Lihat video:




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id