Dua Desa Jadi Role Model Budi Daya Edelweis
Ilustrasi bunga edelweis, Selasa, 6 November 2018. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq.
Malang: Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menjadikan dua desa sebagai role model Desa Wisata Edelweis. Yakni pola percontohan budi daya edelweis di luar habitat aslinya.

Kedua desa tersebut antara lain Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Ketua BB-TNBTS, John Kennedie mengatakan, bunga edelweis atau Kembang Tana Layu jenis Anaphalis Javanica telah ditetapkan sebagai salah satu tanaman yang dilindungi pemerintah.


"Kondisi fisik bunga edelweis yang memiliki ketahanan lama atau tidak mudah layu sehingga diidentikan juga sebagai bunga abadi," kata John saat jumpa pers di Malang, Jawa Timur, Selasa, 6 November 2018.

Baca: Probolinggo Kelola Wisata Edelweis Menggunakan Dana Desa

John mengungkapkan, kondisi tersebut membuat bunga edelweis menjadi bunga menarik yang banyak dicari, terutama oleh muda-mudi. Pasalnya, edelweis diklaim sebagai lambang cinta yang abadi.

Sedangkan, habitat edelweis dapat ditemukan di kawasan TNBTS seperti lereng Semeru dan sekitar kawasan Bromo. Di TNBTS sendiri ada tiga jenis edelweis yaitu Anaphalis Javanica, Anaphalis Visida dan Anapahlis Longifolia. 

Sementara itu bagi masyarakat Tengger, edelweis adalah bunga yang disakralkan sebagai pelengkap sesaji untuk ritual adat. Kondisi semacam inilah yang mengancam keberadaan edelweis dari habitat aslinya. 

"Menyikapi kondisi tersebut BB-TNBTS mencoba mencari terobosan melalui program budidaya Edelweiss di luar habitat aslinya," ungkapnya.

Terobosan tersebut antara lain konservasi edelweis di diluar habitat aslinya, mempertahankan budaya lokal masyarakat Tengger dan memberikan peluang peningkatan ekonomi bagi masyarakat sekitar TNBTS melalui budidaya edelweis.

"Sehingga Desa Wisata Edelweis sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat kedua desa tersebut melalui wisata petik bunga, wisata selfie, dan wisata handy craft bunga edelweiss," ujarnya.

Pengembangan wisata desa edelweiss ini sebenarnya telah diinisiasi sejak 2017 silam. Puncaknya Desa Wisata Edelweis akan dideklarasikan pada 10 Nopember 2018 melalui acara Festival Land of Edelweiss 2018. 

"Festival Land of Edelweis merupakan langkah awal dalam upaya melestarikan edelweiss, melestarikan kearifan lokal budaya Tengger sekaligus memberikan peluang peningkatan ekonomi masyarakat," pungkas John.

Festival Land Of Edelweis akan dilaksanakan di Pendopo Desa Wonokitri Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, dengan tema Harmoni Konservasi dan Budaya Masyarakat Tengger. 

Festival Land Of Edelweis Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini merupakan kerjasama BB-TNBTS dengan Pemerintah Kabupaten Pasuruan dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo. 

Festival yang baru pertama kali diselenggarakan ini bertujuan untuk melaunching dan mempromosikan Wisata Desa Edelweiss.

Selain launching Wisata Desa Edelweis festival ini juga akan dimeriahkan dengan acara Festival Pawon Tengger, Festival Seni dan Budaya Tengger, Pameran Produk Kerajinan EdeIweis, Pameran Produk Desa Penyangga, Pemilihan Duta Edelweis dan Talk Show.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id