Salah satu korban penipuan pengembang bodong menunjukkan dokumen yang dipegangnya. Medcom.id/Syaikhul Hadi
Salah satu korban penipuan pengembang bodong menunjukkan dokumen yang dipegangnya. Medcom.id/Syaikhul Hadi (Syaikhul Hadi)

28 Warga Sidoarjo Ditipu Pengembang Properti

penipuan perumahan
Syaikhul Hadi • 20 Februari 2019 17:57
Sidoarjo: Puluhan korban penipuan investasi hunian di Perumahan Mustika Garden yang berganti nama Grand Mutiara abadi milik developer PT. Alisa Zola Sejahtera mulai diperiksa Unit Harda (harta benda) Satreskrim Polresta Sidoarjo. Total kerugian korban yang dilaporkan mencapai Rp4 miliar.
 
"Iya benar. Setelah dilimpahkan dari Polda Ke Polresta Sidoarjo, saat ini korban mulai dilakukan pemeriksaan," ujar Kasat Reskrim Polresta Sidoarjo, Rabu, 20 Februari 2019.
 
Pihaknya sudah memanggil beberapa korban untuk dimintai keterangan dalam proses penyelidikan. Dan secepatnya akan dilakukan kenaikan status menjadi penyidikan. "Masih kita kumpulkan barang bukti dan keterangan korban. Karena korban banyak," singkatnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kuasa hukum korban, Abdul Malik, mengatakan dugaan kasus ini bermula saat puluhan korban berjumlah 28 orang melapor ke Polda Jatim pada Agustus 2018 lalu. Mereka melaporkan Muhammad Fattah yang mengaku sebagai Direktur Utama PT Alisa Zola Sejahtera terkait penipuan sejumlah uang investasi hunian.
 
"(Nilai kerugian) bervariasi. Mulai di bawah seratus juta hingga di atas seratus atau dua ratus juta yang sudah mereka bayar," terangnya.
 
Dari jumlah 28 korban yang ditipu, total kerugian mencapai kisaran Rp4 miliar. Namun, pembangunan yang dijanjikan selesesai di 2017 lalu belum juga terealisasi.
 
Di sisi lain, sebagian besar korban penipuan investasi hunian rumah tersebut merupakan pasangan suami istri yang baru menikah. Angan-angan memiliki rumah setelah menikah menjadi harapan pahit bagi mereka.
 
Salah satu korban, Gani Setio asal Sedati Sidoarjo, menyebut dirinya sempat kesal lantaran hunian rumah yang dijanjikan belum ada perkembangan. Ia memilih mendatangi Mapolda Jatim dan melaporkan Muhammad Fattah yang mengaku sebagai Direktur Utama.  
 
"Cicilan mulai 2015. Tapi sampai 2017 belum ada progres. Diuruk pun masih belum dilakukan. Jadi, kondisi tanah masih berupa sawah," kata Gani.
 
Dari keterangannya ia sudah melakukan pembayaran baik kepada yang bersangkutan langsung hingga pembayaran melalui ATM atas nama Muhammad Fattah. Total kerugiannya mencapai Rp90 juta rupiah.
 
"Sudah DP Rp25 juta dan  nyicil sampai dua tahun. Per bulan saya bayar Rp2,8 juta. Jadi, total kerugian saya mencapai kurang lebih Rp90 juta yang sudah dibayarkan," pungkasnya.
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif