Guru Honorer di Jatim Berharap ASN bukan Wacana

Syaikhul Hadi, Rahmatullah 12 Februari 2018 19:51 WIB
guru
Guru Honorer di Jatim Berharap ASN bukan Wacana
Ilustrasi pendidikan, Medcom - M Rizal
Sumenep: Kabar pengangkatan sebagai aparatur sipil negara (ASN) menjadi angin segar bagi guru honorer. Guru honorer di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, berharap hal itu bukan sekadar wacana, tapi benar-benar dilaksanakan pemerintah.

"Sudah selayaknya honorer kategori dua diangkat ASN melihat pengabdian dan eksistensinya dalam mewarnai dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Sumenep," kata Koordinator Forum Honorer Kategori 2 (FH-K2) Sumenep, Abd Rahman, Senin, 12 Februari 2018.

Rahman menyebut total guru honorer di Sumenep sebanyak 1.401 orang. Meski sudah bertahun-tahun membantu pemerintah dalam pendidikan, nasib mereka hingga kini terkatung-katung, karena hanya diupah sebesar Rp350 ribu per bulan. Itu pun pembayarannya selalu telat. Seperti untuk tahun ini, hingga pertengahan bulan Februari belum ada tanda-tanda bakal dicairkan.


Karenanya, Rahman bersyukur pemerintah pusat sadar akan nasib guru honorer tersebut. Dia tinggal berharap dukungan tertulis dari pemerintah daerah agar pengangkatan ASN itu menjadi proritas utama. Rahman mengaku sudah mengirim surat kepada bupati untuk meminta dukungan tertulis tersebut.

"Pengusulan honorer K2 menjadi ASN semoga terus dikawal hingga Jakarta nanti," harapnya.

Rahman menuturkan selama ini guru honorer menyambi pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti menjalankan les pelajaran bagi siswa. Bahkan ada yang berdagang kembang api. Karena jika mengandalkan insentif yang diberikan pemerintah, sudah pasti tidak cukup. Sebab untuk dibuat ongkos pulang pergi mengajar saja, insentif tersebut dirasa sudah tidak cukup.

Sementara Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam kunjungannya ke Sumenep kemarin mengatakan bahwa DPR sudah lama menginginkan guru honorer diangkat menjadi ASN. Tapi pemerintah belum siap untuk merealisasikan hal itu.

"Aspirasi K2 kita dukung. Harus segera diangkat," ungkap Fadli.  

Respon positif pun disampaikan guru di Sidoarjo, Jatim. Lailil Mukarromah, guru di SMP Bilingual Terpadu Yayasan Al-Amanah, menganggap rencana tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah di dunia pendidikan.

"Saya sih setuju banget jika dinaikkan statusnya demi kesejahteraan guru. Di sekolah, guru tidak hanya mengajar tapi juga mendidik," ungkap guru mata pelajaran Bimbingan Konseling tersebut. 

Ia menceritakan, upah yang diterimanya saat ini masih terbilang bagus dibanding awal mula mengajar disekolah tersebut. Ia yang merupakan Sarjana Bimbingan Konseling Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya mengaku tak kaget, jika kesejahteraan guru masih belum terpenuhi.

Seiring waktu, upah yang ia terima pun naik hingga menjadi Rp2,5 juta. Namun, guru tetap membuka mata dan ekstra sabar untuk mendidik siswa.

"Menghadapi siswa zaman now dengan siswa beberapa tahun yang lalu sangatlah berbeda. Sekarang ini harus ekstra hati-hati. Apalagi orang tua yang mempunyai banyak keinginan untuk pendidikan putra putrinya. Tapi ketika anaknya ditegur/diingatkan, orang tua memprotect (melindungi) secara berlebihan sehingga cenderung menyalahkan guru," ujarnya.




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id