Pengadilan Agama Sidoarjo Sidang Keliling Kasus Perceraian

Syaikhul Hadi 12 April 2018 18:23 WIB
perceraian
Pengadilan Agama Sidoarjo Sidang Keliling Kasus Perceraian
sidang di Kecamatan Krian, Sidoarjo
Sidoarjo: Tingginya angka perceraian di Sidoarjo membuat petugas Pengadilan Agama kewalahan. Kini, Pengadilan Agama Sidoarjo, Jawa Timur, menerapkan program sidang keliling untuk mempercepat proses penanganan kasus perceraian. 

Pada program sidang keliling yang baru dilakukan hari ini di Kecamatan Krian, Sidoarjo, Ketua Pengadilan Agama, M Jauhari mengungkapkan, ada sekitar 5.000-an kasus yang sedang ditangani Pengadilan Agama Kabupaten Sidoarjo di tahun 2017. 

"Dari jumlah itu, yang lebih dominan adalah angka perceraian yang mencapai 4.000 an kasus," kata M Jauhari saat menyosialisasikan program perdananya kepada masyarakat, Kamis, 12 April 2018. 


Banyaknya jumlah kasus tersebut membuat kewalahan hakim yang menangani kasus tersebut. Belum lagi jumlah hakim yang tak sebanding dengan kasus yang ada alias terbatas. 

"Bahkan ada para hakim yang menangani sidang perceraian sering pulang malam untuk menyelesaikan proses sidang. Nah, dengan adanya program ini untuk mempercepat proses penanganan kasus perceraian di Sidoarjo," jelasnya. 

Ada beberapa faktor penyebab meningginya angka perceraian di Sidoarjo. Di antaranya, masalah mental pasangan yang labil atau gampang goyah karena kurangnya pendidikan pra-nikah. Kemudian penyebab kedua karena faktor ekonomi dan yang ketiga karena adanya pengaruh pihak ketiga.

"Jadi, Program Sidang Keliling ini seperti jemput bola di kecamatan-kecamatan. Harapannya bisa membantu penyelesaian proses sidang," jelasnya. 

Selain kasus perceraian, Sidang Keliling juga menangani permasalahan sengketa harta waris, perubahan nama di akta nikah, dan melayani sidang isbat (pengesahan) perkawinan bagi pasangan yang sudah nikah siri yang difasilitasi agar mengurus akta nikah.

“Terus terang kami (pihak PA) kewalahan menangani kasus perceraian karena jumlah hakim yang menangani sangat terbatas, maka kita coba melakukan terobosan dengan melakukan Sidang Keliling di kecamatan-kecamatan untuk jemput bola," tandasnya. 

Sementara, Wakil Bupati Sidoarjo mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Kondisi itu tidak diimbangi dengan minimnya pengetahuan pasangan muda tentang pra-nikah. Padahal pemahaman masalah pra-nikah sangat penting bagi setiap calon pengantin.

"Untuk itu, Balai Nikah yang ada di KUA (Kantor Urusan Agama) harus lebih serius dalam menyelenggarakan pendidikan pra-nikah. Diakui atau tidak, selama ini pasangan yang akan menikah terkadang tidak memiliki wawasan yang cukup untuk menikah. Mereka tidak mengerti kewajiban suami, kewajiban isteri dan makna serta filosofis tentang anak," terang Nur Achmad Syaifuddin. 

Rendahnya pemahaman dan kurangnya wawasan pernikahan itu menyebabkan angka KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) juga menjadi tinggi. 

"Permasalahan ini cukup kompleks. Ini terbukti lemahnya wawasan mereka tentang pernikahan. Karenanya, pendidikan pra nikah harus diperkuat," tandasnya. 



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id