Hanan Jalin dan Batik Celaket Malang.
Hanan Jalin dan Batik Celaket Malang. (Daviq Umar Al Faruq)

Jatuh Bangun Hanan Jalil Kelola Batik Tulis Celaket

Sosok Inspiratif
Daviq Umar Al Faruq • 23 Januari 2019 17:48
Malang: Hanan Abdul Djalil adalah pemilik Batik Tulis Celaket (BTC) atau yang biasa dikenal Batik Celaket. Berangkat dari keinginannya untuk melestarikan batik, Hanan kini menjadi salah satu pengusaha sukses di Indonesia.
 
Produk batik milik Hanan tak hanya diminati wisatawan lokal namun juga wisatawan mancanegara. Bahkan, dalam sebulan, pria yang mantan jurnalis ini bisa meraup omzet hingga ratusan juta rupiah.  
 
Berbagai penghargaan pun telah diperolehnya. Terakhir, Hanan bersama 20 pengusaha lain se-Indonesia mendapatkan penghargaan SMESCO Inspiring Entrepreneur Business Award 2016.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penghargaan itu diberikan secara lansung oleh Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah (AAGN) Puspayoga berkat kiprahnya yang berhasil menginspirasi pengusaha lain di Indonesia.
 
Kesuksesan Hanan tak diperoleh dengan mudah. Pria asal Banyuwangi, Jawa Timur ini bersama istrinya, Ira Hartanti harus jatuh bangun untuk membangun bisnis batiknya sejak 1997 silam.
 
"Saya mengalami jatuh bangun sekitar empat kali mulai pertama kali buka. Alhamdulillah sejak 2010 hingga sekarang bagus perjalanannya," katanya saat ditemui Medcom.id di kediamannya.
 
Jatuh Bangun Hanan Jalil Kelola Batik Tulis Celaket
 
Masa yang paling diingat oleh Hanan ada pada 2003 silam. Saat itu usaha pria yang juga Ketua DPD Partai NasDem Kota Malang ini sempat jatuh dan baru bisa bangkit lagi setelah tiga tahun berselang.
 
"Saat itu tidak ada keberpihakan pemerintah ke perusahaan kecil terutama di dunia tekstil. Impor tekstil besar-besaran, tekstil lokal hancur, batik di seluruh Indonesia juga hancur," bebernya.
 
Namun setelah melewati masa jatuh bangun, kini Hanan telah menuai manisnya bisnis batik. Berkat kesabaran dan keuletannya, Batik Celaket kini menjadi salah satu ikon batik khas Kota Malang.
 
Berbeda dengan pakem batik pada umumnya yang berwarna gelap atau netral seperti hitam atau coklat, Batik Celaket ini justru memiliki warna yang cukup mencolok seperti ungu, kuning, dan hijau. 
 
Perpaduan warnanya pun cukup unik, antara lain ungu dan kuning, merah dan biru, atau ungu dan hijau tua. Keunikan ini memberi kesan yang berbeda dari batik di Indonesia pada umumnya. 
 
Motif yang diadopsi pun berbeda. Batik Celaket tidak memiliki motif tertentu seperti parang, kawung atau mega mendung. Motif yang sering dipakai adalah motif bunga, representasi Kota Malang sebagai Kota Bunga. 
 
Ada juga beberapa motif yang diadopsi dari kondisi masyarakat sekitar seperti Motif Ulat Bulu, Tugu, Singa, Apel dan lain-lain. Corak dalam Batik Celaket ini digambarkan dengan sederhana dan menarik.
 
Jatuh Bangun Hanan Jalil Kelola Batik Tulis Celaket 
 
Meski awalnya, Batik Celaket sempat dicemooh karena berlawanan dengan pakem. Namun kini, Hanan justru kian dikenal dan digemari hasil-hasil karya batiknya yang dapat dibilang nyeleneh itu. 
 
Selain di Malang, Batik Celaket memiliki gerai di sejumlah kota besar di Indonesia. Mulai dari Bandung, Jakarta dan Bali. Tahun ini rencananya, Hanan bakal membuka gerai baru.
 
"Bulan lima saya akan buka Batik Celaket 52. Isinya tidak hanya batik tapi semua kekhasan tentang Malang, seperti oleh-oleh dan souvenir berbau Malang," ungkapnya.
 
Lestarikan Batik, Sasar Generasi Muda
 
Tak hanya berbisnis, Hanan Djalil juga memiliki semangat untuk melestarikan batik di Kota Malang, terutama di kawasannya Kelurahan Rampal Celaket. Oleh karena itu dia menyasar generasi muda.
 
Hanan menceritakan kawasan Kelurahan Rampal Celaket dulunya merupakan kampung batik. Namun, sentra batik di kawasan tersebut mati pada era 1970-an.
 
"Batik kalau dibiarkan ya habis. Saya ini sebagai keturunan pembatik kan sangat sayang kalau tidak ada yang meneruskan," ujarnya.
 
Berangkat dari keinginan tersebut, Hanan pun kemudian mendirikan Batik Celaket. Tak hanya untuk mengembalikan kampung batik, Hanan pun ingin agar batik ini tetap lestari.
 
Oleh karena itu, Hanan pun mempekerjakan sekitar 40 orang warga sekitar untuk memproduksi batik setiap hari. Mayoritas pekerja yang direkrutnya merupakan anak-anak muda.
 
"Harapan saya setelah mereka bekerja disini kedepannya mereka punya pabrik sendiri-sendiri dan batik bakal lestari," tuturnya.
 
Jatuh Bangun Hanan Jalil Kelola Batik Tulis Celaket
 
Tak hanya itu, Hanan pun membuka pelatihan bagi yang ingin belajar membatik di tempatnya. Dia mengaku pelatihan ini lebih menyasar kepada generasi muda seperti pelajar SD, SMP, dan SMA.
 
Namun pelatihan ini juga terbuka bagi para mahasiswa. Bahkan tak jarang, wisatawan mancanegara pun belajar membatik di galerinya.
 
"Saya punya murid asal Jepang. Setelah berlatih disini dia sekarang punya perusahaan batik sendiri, Batik Sakura. Dan usahanya ternyata sekarang lebih besar dari punya saya," pungkasnya.
 

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif