Pedagang bawang putih (Foto:MI/Djoko Sardjono)
Pedagang bawang putih (Foto:MI/Djoko Sardjono) (Anggi Tondi Martaon)

Komisi IV Sebut Stok dan Harga Pangan di Jatim Stabil

berita dpr
Anggi Tondi Martaon • 23 Mei 2019 11:32
Jakarta: Jelang Lebaran 2019, Komisi IV DPR RI memantau ketersediaan dan harga pangan di beberapa daerah. Salah satunya, di Jawa Timur (Jatim).
 
Pemantauan di Jatim dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan. Turut hadir pada kegiatan tersebut perwakilan Dinas Peternakan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).
 
Dari hasil pemantauan, kondisi pangan selama Ramadan dan menjelang Idulfitri dalam kondisi baik. Bahkan, harga bawang putih yang sempat menyentuh Rp100 per kilogram, kini turun menjadi Rp20 per kilogram.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami berharap kejadian seperti kemarin tidak terulang. Oleh karena itu harus direncanakan dengan baik, berbasis data terhadap kebutuhan dan keseimbangan supply dan demand," kata Daniel, dikutip dpr.go.id, Kamis, 23 Mei 2019.
 
Politikus PKB itu juga mengingatkan Kemendag agar rekomendasi pengadaan bawang putih kepada Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) segera direalisasikan. Jangan sampai antar instansi saling adang dalam memenuhi kebutuhan pangan karena akan merugikan masyarakat.
 
"Sebelumnya saja harga bawang putih mencapai Rp100 ribuan, dan sekarang sudah Rp20 ribuan. Jadi sudah mengambil Rp100 ribu per kilogram uang rakyat dengan keterlambatan ketersedian bawang putih itu," kata Daniel.
 
Sementara itu, Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar Utomo mengatakan, pihaknya memiliki stok beras sebanyak 2,2 juta ton. Semuanya sudah disebar ke divisi regional (divre) seluruh Indonesia.
 
"Ketersedian beras tidak ada lagi persoalan. Terkait minyak dan gula, kita sudah bantu menstabilkan. Harga gula pun kita jual dari Bulog di rumah pangan hanya sekitar Rp12 ribu saja. Minyak kita jual dengan harga Rp11 ribu," kata Bachtiar Utomo.
 
Untuk menahan laju kenaikan harga pangan, Bulog bersama Kemendag dan Kementerian Pertanian (Kementan), serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bekerja sama memonitoring pasar. Kenaikan harga diduga disebabkan permainan pedagang atau tengkulak.
 
"Masalahnya setiap setahun sekali, pedagang maupun tengkulak menaikkan harga sendiri. Padahal, barang dari kita belinya murah. Untuk itu, perlu kita imbau supaya para pedagang di pasar mencari untungnya jangan terlalu besar," ucap Bachtiar.
 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif