Penerapan e-Tilang Butuh Sistem untuk Pangkas Waktu
Suasana di sebuah lampu lalu lintas di Surabaya, Jumat, 12 Oktober 2018, Medcomid- Hadi
Surabaya: Penerapan sistem bukti pelanggaran elektronik (e-tilang) melibatkan dinas perhubungan, lepolisian, dan Samsat. Lantaran itu, penerapannya dibutuhkan sistem untuk memangkas proses dan waktu yang panjang.

Sebenarnya, kata KBO Lantas Polrestabes Surabaya AKP Moch Suud, e-tilang sangat memudahkan kerja polisi memantau kondisi lalu lintas di Surabaya, Jawa Timur. Hanya saja, prosesnya cukup panjang baru penindakan dilakukan.

"CCTV yang sudah terpasang itu terkoneksi di command center milik Polrestabes Surabaya. Jadi, kami hanya memantau dari sini sudah terlihat siapa yang melanggar," kata Suud di Surabaya, Jumat, 12 Oktober 2018.


Hasil rekaman kamera terkoneksi di Dinas Perhubungan Surabaya. Lalu rekaman itu diserahkan ke polisi. Kemudian, hasilnya diserahkan ke Samsat untuk pengecekan identitas pelanggar berdasarkan nomor polisi kendaraan.

"Setelah itu, polisi mendatangi rumah sesuai identitas yang didapat dari rekaman tersebut. Cukup memakan waktu," ujar Suud. 

Ia menyontohkan, dalam sehari, ada 40 pelanggar terpantau di satu lampu lalu lintas. Bila ada 10 lampu, jadi sebanyak 400 pelanggar yang dipantau.

"Minimal dua hari prosesnya. Tapi efektifitasnya lebih besar dibandingkan sebelum adanya CCTV. Yakni bisa menekan angka pelanggaran lalu lintas, menekan angka kecelakaan, dan menekan angka kejahatan di jalan," tandasnya.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id