Pasutri Jadi Korban Salah Tangkap
Arifin di rumahnya Jalan Kapi Sraba XI Blok 10 H nomor 12 RT 04/RW 16, Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Malang: Pasangan suami istri (pasutri) asal Malang, Arifin, 47, dan Siti Rohaida, 48, mungkin adalah salah satu dari sekian banyak korban akibat ledakan bom di Surabaya beberapa waktu yang lalu.

Namun pasutri ini bukan korban meninggal. Bukan juga korban luka-luka. Melainkan korban atas pemberitaan media.

Bagaimana tidak, pasutri yang sehari-harinya berjualan krupuk dan telor asin ini di cap sebagai terduga teroris usai tim Densus 88 Anti Teror menangkap dan menggeledah rumah mereka, Senin, 14 Mei 2018 lalu.

Hampir seluruh media lokal maupun nasional meliput saat polisi menggeledah rumah mereka di Jalan Kapi Sraba XI Blok 10 H nomor 12 RT 04/RW 16, Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Tak sedikit pula warga sekitar yang menyaksikan secara langsung penggeledahan oleh puluhan polisi di balik garis polisi line yang dipasang sepuluh meter dari rumah berpagar coklat tersebut.

Secara cepat pemberitaan media dan unggahan media sosial masyarakat pun membuat nama Arifin dan Siti Rohaida 'terlihat' sebagai salah satu pendukung aksi bom bunuh diri di Surabaya tersebut.

Padahal, hanya selang beberapa jam sejak rumahnya digeledah, Arifin pulang ke rumahnya mengendarai sepeda motor. Ternyata, pria kelahiran Surabaya ini hanya dimintai keterangan oleh Densus 88 kemudian dilepaskan.

"Setelah rumah saya digeledah, saya dibawa ke markas Brimob di Ampeldento untuk diinterogasi. Tapi jam tujuh malam saya sudah pulang ke rumah," kata Arifin kepada Medcom.id, Rabu 16 Mei 2018.

Arifin menceritakan bahwa peristiwa tersebut bermula saat istrinya, Siti Rohaida membesuk ibunya di Surabaya pada Jumat 11 Mei 2018 lalu. Sebab ibunya hendak berangkat umroh pada bulan Ramadan tahun ini.

Rohaida berangkat bersama adiknya, Rosalina Afrida beserta ketiga anaknya yang berusia 2 tahun, 4 tahun dan enam tahun. Rohaida berangkat dari Malang kemudian menjemput Rosalina dan anak-anaknya di Sidoarjo lalu menuju ke Surabaya.

Usai selesai membesuk ibunya, Rohaida pun mengantarkan Rosalina pulang ke rumahnya di Sidoarjo. Namun, salah satu anak Rosalina mendadak sakit dan harus segera diobati di rumah sakit.

Rohaida pun kemudian mengantarkan anak Rosalina ke Klinik Bhayangkara Sidoarjo. Klinik tersebut dipilih karena memang dekat dengan rumah Rosalina.

"Tapi sampai di klinik, mungkin karena istri saya sama adiknya mengenakan cadar kemudian di interogasi oleh polisi disana," bebernya.

Saat itu, Rohaida pun sempat memberi kabar kepada suaminya Arifin bila sedang di razia biasa oleh polisi. Rohaida mengatakan bahwa razia ini tidak berlangsung lama dan hanya terdapat sebuah kesalahpahaman saja.

Namun selang beberapa jam, ternyata foto kartu tanda penduduk (KTP) milik Rohaida dan Rosalina tersebar di media sosial sebagai salah satu terduga teroris. 

Sementara itu, Arifin yang tengah bekerja di Kantor Pos Pusat Kota Malang tiba-tiba didatangi petugas berpakaian serba hitam bersenjata lengkap. Arifin kemudian diminta untuk menemani petugas untuk menggeledah rumahnya.

Seluruh bagian rumah Arifin pun dibongkar oleh belasan anggota polisi. Tak luput, beberapa buku agama pun turut diamankan petugas.

"Buku yang diamankan buku ngaji. Buku Fiqih. Tidak ada ajaran ekstremisme di dalam buku itu," ungkapnya.

Setelah, selesai menggeledah, Arifin dibawa ke Markas Satuan Brimob Detasemen B Pelopor Polda Jatim di Jalan Raya Ampeldento, Pakis, Malang, untuk diinterogasi.

"Pertanyaan yang diajukan lebih ke arah istri saya. Soal pengajiannya seperti apa. Kegiatannya sehari-hari apa. Saya jawab semua," tuturnya.

Setelah menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan petugas, Arifin pun kemudian dipersilahkan pulang. Namun, meskipun tidak dinyatakan berkaitan dengan terduga teroris, nama Arifin dan Siti Rohaida terlanjur buruk di mata masyarakat.

"Setelah saya pulang hanya ada dua orang yang datang ke rumah saya menanyakan seperti apa cerita sesungguhnya. Lainnya nggak ada, mungkin mereka takut dibom," ujarnya sambil tertawa.

Dengan hati besar, Arifin memaklumi dirinya mendapat perlakuan seperti itu. Sebab dia dan istrinya berada di posisi dan waktu yang tak tepat.

"Ngapain saya ikutan nge-bom gitu, jemblem (panganan) masih enak. Mungkin petugas hanya sedang panik saja, makanya bertindak berlebihan," tukasnya.

Arifin menilai peristiwa ini sebagai sebuah pembelajaran tersendiri baginya. Dia pun menganggap bahwa terdapat hikmah yang dapat diambil dari kejadian ini.

"Nggak papa lah. Dosa saya bisa saja berkurang karena seluruh masyarakat menilai saya jelek," pungkasnya.

(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id