SBY menerima Anugerah Prapanca Agung dari Ketum PWI Margiono didampingi Ketua PWI Jatim Akhmad Munir di acara Puncak HPN 2017 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. (Metrotvnews.com/Amal)
SBY menerima Anugerah Prapanca Agung dari Ketum PWI Margiono didampingi Ketua PWI Jatim Akhmad Munir di acara Puncak HPN 2017 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. (Metrotvnews.com/Amal) (Amaluddin)

SBY: Pers Jangan Benturkan Saya dengan Pak Jokowi

sby
Amaluddin • 29 Maret 2017 19:10
medcom.id, Surabaya: Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta insan pers tidak membenturkan dirinya dengan Presiden Joko Widodo. Pers juga diminta tidak membelokkan dan memenggal substansi pernyataan.
 
Curahan hati itu ia sampaikan SBY dalam orasi kebangsaan bertema 'Demokrasi dan Kebebasan Pers' pada Peringatan Hari Pers Nasional ke-71 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu, 29 Maret 2017.
 
"Saya minta kepada insan pers, jangan benturkan saya dengan Pak Jokowi dan pemerintah," kata SBY.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


SBY mengaku pertemuannya dengan Jokowi berjalan baik dan konstruktif. Karena itu, pria yang juga Ketua Umum Partai Demokrat itu meminta kepada para jurnalis untuk tidak membelokkan dan memenggal paparan yang disampaikan.
 
"Mohon wartawan tidak membelokkan dan memenggal substansi paparan saya, sehingga keluar dari konteksnya. Karena saya lelah menghadapai hoax yang memberitakan sesuatu yang tak saya ucapkan dan lakukan," ujarnya.
 
SBY mengungkapkan, awalnya dirinya ragu menerima permintaan para pengurus PWI Jatim untuk menyampaikan orasi soal demokrasi dan kebebasan pers. Alasannya, dirinya masih ragu dengan ketertarikan masyarakat terhadap masalah demokrasi dan pers.

Keakraban Jokowi dan SBY di Beranda Istana


Namun, SBY mengaku telah mempertimbangkannya. Ia mengaku tak baik jika menjadi penakut, tidak berani bicara di negeri sendiri. Karena itu ia memberanikan diri untuk menyampaikan orasi kebangsaannya.
 
"Saya khawatir ada pihak-pihak lain yang salah mengerti. Bagaimana jika ada pihak lain yang tak nyaman dan salah mengerti pidato singkat saya ini. Tapi setelah saya pertimbangkan, tidak baik menjadi penakut di negeri sendiri," katanya.
 
Pers dan media, lanjut SBY, adalah pilar demokrasi, penegak kebenaran dan keadilan. Pers menyuarakan suara rakyat, mengontrol jalannya pemerintahan dan menyejahterakan rakyat.
 
"Agar demokrasi makin hidup dan berkualitas, maka pemberitaan pers harus objektif dan faktual, bukan hoax dan fake news. Tidak ada pers yang bebas dari partisan, selalu ada keberpihakan, tapi jangan terlalu partisan," pesannya.

SBY Ajak Rakyat Dukung Pemerintahan Jokowi


Di akhir sambutannya, SBY mengingatkan bahwa ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Yakni mengembalikan muruah pers sebagai pilar demokrasi.
 
“Saya yakin setiap ada kesulitan selalu ada solusi. Yang diperlukan saat ini adalah kesadaran, kemauan, dan keberanian kita untuk melakukan kebaikan bagi bangsa dan negara ini,” tutupnya.
 
Pada puncak peringatan Hari Pers Nasional di Gedung Negara Grahadi, selain menyampaikan orasi kebangsaan soal demokrasi dan pers, SBY juga menerima penghargaan Prapanca Agung. Penghargaan ini diberikan PWI Jatim kepada putra/putri asli Jawa Timur yang mempunyai jasa besar pada pembangunan bangsa dan negara.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif