Abdullah beserta istrinya, Siti Rukayah, berangkat haji bersama rombongan dari Jawa Timur. Ia bertolak dari Tanah Air pada 7 September 2015.
Di Tanah Suci, keduanya mengikuti rangkaian ibadah. Salah satunya yaitu salat di Masjidil Haram pada 11 September 2015 waktu setempat.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

(Abdullah, suami dari seorang perempuan asal Malang yang menjadi kroban crane jatuh pada 2015, MTVN - Aditya)
Saat itu, Abdullah dan Rukayah bersiap untuk melakukan salat Magrib. Abdullah tengah mengambil air wudhu. Sementara Rukayah berada di luar.
Kemudian, Abdullah mendengar bunyi dentuman. Abdullah bergegas keluar dari bilik tempat ambil air wudhu.
Ia tak menemukan istrinya. Setelah mencari kesana-kemari, ternyata istrinya menjadi korban. Rukayah meninggal tertimpa reruntuhan crane. Abdullah mengetahui hal tersebut setelah proses identifikasi.
Kejadian itu membuat Abdullah pulang ke Tanah Air seorang diri. Tak ada istri yang mendampinginya.

(Lokasi peristiwa crane jatuh di Masjidil Haram Mekkah pada September 2015, AFP)
Saat ditemui Metrotvnews.com, Kamis 2 Maret 2017, Abdullah masih mengingat betul kejadian tersebut. Ia juga masih ingat saat-saat terakhir bersama sang istri.
Setibanya di Tanah Air, Abdullah mengaku mendapat janji santunan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Ia juga mendapat janji untuk berangkat haji lagi.
Lebih setahun berselang, janji itu tak kunjung terealisasi. Santunan pun tidak ia terima.
"Saya pulang dari Arab itu juga sendiri tidak ada pendampingan dari pemerintah Indonesia. Berangkat haji bersama almarhumah (Siti Rukayah) dan rombongan kloter, pulang bersama rombongan kloter, " terang Abdullah saat ditemui di SMPN 1 Kepanjen, Kabupaten Malang, tempat ia bekerja.
Abdullah mengaku menanyakan hal itu ke pemerintah. Namun ia tak mendapat jawaban.
"Mereka bilang, belum ada kabar dari Arab," lanjut Abdullah yang kini berusia 61 tahun itu.
Abdullah mengaku mendapat informasi dari temannya di Iran dan Turki yang juga menjadi keluarga korban crane ambruk. Mereka, lanjut Abdullah, sudah mendapat santunan.
"Tapi tidak tahu kok di Indonesia belum," ungkap Abdullah.
Kondisi lebih baik terjadi pada keluarga Masadi Saimin Tarimin. Siti Jamilah, istri almarhum, mengaku sudah mendapat dana dari pengembalian ongkos haji milik suaminya.
"Dananya sebesar Rp38 juta dari KBIH Asy-Syafaat. Itu saja, lainnya tidak ada," ujar Siti Jamilah saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Ampelgading.
Siti Rukayah dan Masadi merupakan dua warga Kabupaten Malang yang meninggal di Masjidil Haram setelah crane jatuh. Total warga Indonesia yang luka maupun tewas dalam kecelakaan itu berjumlah 34 orang.
Baca: Keluarga Korban Tewas Insiden Crane Dapat Santunan Rp38 Juta
Efek angin kencang
Sekira pukul 17.30 WIB, angin kencang dan hujan deras terjadi di Kota Mekkah, Arab Saudi. Di saat bersamaan, jemaah tengah bersiap untuk melakukan salat Magrib.
Tiba-tiba, bunyi dentuman terdengar. Sebuah crane jatuh dan menimpa lantai yang menjadi lokasi jemaah beribadah. Tak pelak lagi, beberapa orang tertimpa crane dan reruntuhan bangunan.
Kepanikan terjadi. Jemaah berlarian. Beberapa orang dilaporkan terinjak-injak.
Direktur Jenderal Pertahanan Sipil (GDCD) Arab Saudi Letnan Jenderal Suleiman Al-Omar memastikan penyebab crane jatuh yaitu tidak kuat diterpa angin kencang. Namun, Suleiman tetap mengerahkan lembaga untuk menyelidiki penyebab tragedi itu.

(Gubernur Mekkah (tengah) saat mendatangi lokasi crane jatuh di Masjidil Haram pada September 2015, AFP)
Baca: Arab Saudi Pastikan Angin Kencang Penyebab Jatuhnya Crane
"Angin kencang yang menjadi penyebab jatuhnya crane di Masjidil Haram," kata Suleiman dikutip Kuna, saat itu.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyebutkan korban meninggal sudah mencapai 107 orang. Data korban yang terluka akibat insiden juga bertambah 238 orang. Dari foto di berbagai media sosial memperlihatkan kondisi bangunan yang hancur dan ceceran darah korban.
Janji Arab Saudi
Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz berbelasungkawa atas tragedi itu. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Raja Salman berjanji memberikan santunan pada ahli waris korban meninggal maupun korban luka.
Baca: Raja Arab Saudi Menyantuni Korban Insiden Crane Jatuh
Pemberian santunan dibagi dalam tiga kategori. Untuk korban meninggal, Raja memberikan santunan sebesar SR1 juta atau setara dengan Rp3,8 miliar dan SR1 juta lagi untuk korban dengan cacat seumur hidup. Sementara bagi korban luka-luka, Raja memberikan santunan sebesar SR500 ribu atau setara dengan Rp1,9 miliar.
.jpg)
(Raja Salman dari Arab Saudi, AFP)
Selain memberikan santunan, Raja Salman juga memberikan sanksi kepada kontraktor Bin Laden Corporation dengan mencabut izin kerja untuk proyek-proyek berikutnya.
Pemerintah Arab juga memberikan hadiah kepada dua orang keluarga korban meninggal untuk melaksanakan ibadah haji sebagai tamu kehormatan untuk musim haji 2016, dan bagi korban luka untuk kembali mengulang ibadah haji pada tahun berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
