Pada bagian depan, kain hitam menyelubungi reklame. Kain itu sengaja dipasang untuk menutup identitas Kantor PT. First Travel. "Sudah tidak beroperasi sejak 5 Agustus, izin operasionalnya dicabut," kata Kepala Cabang First Travel Sidoarjo, Rudy Hermanadi saat ditemui Metrotvnews.com, di kantornya, Kamis, 24 Agustus 2017.
Baca: Kantor First Travel di Bantul Tutup Sepekan Terakhir
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ihwal keberadaan karyawan, hal itu untuk memberikan kesempatan calon jemaah umrah memperoleh informasi. Rudy mengaku pihaknya masih menerima konsumennya yang menanyakan seputar waktu keberangkatan.
"Kalau hanya tanya-tanya informasi masih kami layani. Tapi untuk pendaftaran sudah tidak lagi," katanya.
Namun, Rudy mengaku tak bisa berbuat banyak untuk menjawab pertanyaan calon jemaah seputar pemberangkatan. Alasannya, sistem pemberangkatan menjadi keputusan kantor pusat.
"Di sini kami hanya mendata calon jemaah yang melakukan pendaftaran. Begitu juga dengan mekanismenya," jelasnya.
Baca: 30 Ribu Paspor Jemaah Umrah First Travel Raib
Pada 10 Agustus lalu, dia bersama kepala cabang se-Indonesia sempat diundang pimpinan First Travel ke Jakarta untuk membicarakan rencana keberangkatan para calon jemaah. Saat itu, bocoran yang diterimanya, sudah dilakukan booking seat, dan beberapa jemaah yang siap diberangkatkan.
"Rencana itu akan disampaikan langsung oleh pimpinan. Namun, belum sampai tanggal itu, ternyata pimpinan sudah dijemput Bareskrim Mabes Polri. Akhirnya tidak jadi," jelasnya.
Sehari kemudian, Rudy mendatangi Bareskrim Mabes Polri untuk memberikan keterangan terkait jumlah calon jemaah umroh untuk pemberangkatan 2017. Untuk pemberangkatan calon jemaah umroh dari Sidoarjo, tahun ini mencapai 4.148 orang. Sedangkan untuk calon jemaah yang belum bisa diberangkatkan mencapai 2.502 orang.
"Di Jatim ada tiga cabang. Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Namun, untuk jumlah yang mendaftar ke kami, sudah kami sampaikan ke Bareskrim saat itu. Untuk keputusan berangkat atau tidaknya, yang jelas kami masih menunggu informasi dari pusat," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
