Darmanto, 56, salah satu sopir angkutan umum jurusan Joyoboyo-Pasar Turi, keberatan dengan putusan menurunkan tarif angkutan. Sementara kebutuhan hidup terus naik.
"Lalu kita (para sopir) mau makan apa. Kalau tarif angkutan turun, tapi harga sembako tidak turun, ini jelas merugikan para sopir," kata dia, di Terminal Joyoboyo, Jalan Joyoboyo, Surabaya, Rabu (6/4/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Terlebih lagi, kata dia, penumpang angkutan umum di Surabaya sepi sejak setahun terakhir ini. Kata dia, sepinya penumpang ini bukan efek karena turunnya harga BBM, tetapi karena munculnya kendaraan berbasis online.
"Penumpang sudah sepi, ditambah lagi tarif turun. Terus para sopir ke depan bukannya makin tercekik'," keluh bapa dua anak ini.
Joko, 48, pengemudi angkutan umum jurusan Wonokromo-Gubeng, juga menolak jika tarif angkutan umum diturunkan. Kata dia, meski turunnya hanya Rp150, sangat terasa bagi para sopir.
"Apalagi sekarang ini penumpang sepi banget. Harga onderdil juga masih tinggi, hitung-hitungannya sulit untuk menurunkan tarif mas," katanya.
Joko dan Darmanto berharap pemerintah mempertimbangkan nasib para sopir angkutan umum sebelum menurunkan tarif.
"Harusnya pemerintah menghitung dulu turunnya BBM dengan tarif angkutan umum, tolonglah perhatikan kita juga (para sopir angkutan)," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
