Kecaman muncul karena panitia memberi perlakuan berbeda terhadap peserta (muktamirin) yang tak mendukung penggunaan sistem ahlul halli wal aqli (ahwa) atau musyawarah dalam memilih rais aam syuriyah.
Malik bahkan langsung menyambangi Gedung Olahraga Merdeka, Jombang, tempat registrasi peserta. Didampingi sembilan orang Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) yang menolak sistem ahwa, Malik menerobos pintu timur ruang pendaftaran. Dengan pengeras suara dia meminta panitia menghentikan aksi diskriminasi tersebut.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Semua peserta harus masuk dalam agenda muktamar. Jangan ada lagi perbedaan perlakuan dalam pemberian kartu identitas," ujarnya saat ditemui Metrotvnews.com, Sabtu (1/8/2015).
Ditanya apakah dia menolak sistem ahwa, Malik tak mempersoalkan itu. Dia mengecam sikap panitia yang membedakan peserta pendukung dan penolak sistem ahwa.
"Penggunaan sistem ahwa tidak bisa dipaksakan karena forum tertinggi adalah muktamar. Seharusnya, peserta diperbolehkan masuk dulu. Terkait nanti akan menggunakan sistem ahwa atau tidak, semua harus diserahkan kepada muktamirin," imbuhnya.
Terpisah, Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik, Khusnul Khuluq, juga meminta panitia memperlakukan sama semua peserta.
"Intinya, jangan sampai diskriminasi yang dilakukan panitia membuat suasana muktamar semakin tidak kondusif. Jangan sampai menimbulkan perpecaham di NU," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, tak semua muktamirin mendapatkan kartu identitas. Hanya peserta yang menyerahkan formulir persetujuan sistem ahwa yang mendapatkan akses itu. Mereka yang tak menyertakan formulir hanya diberikan kartu identitas saat pembukaan dan tak diperkenankan mengikuti agenda muktamar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
