Warga menunjukkan embung hasil reklamasi Semen Gresik di Tuban, MI - Abdus Syukur
Warga menunjukkan embung hasil reklamasi Semen Gresik di Tuban, MI - Abdus Syukur (Abdus Syukur)

Air Embung Jadi Berkah Bagi Warga Tuban

semen indonesia
Abdus Syukur • 29 April 2017 20:11
medcom.id, Tuban: Kolam-kolam penampungan berukuran besar, nampak dipenuhi air berlimpah dan seperti tiada akan pernah habis. Dipadu dengan rimbunnya pepohonan dengan daunnya yang lebat, membuat suasana yang asri dan hawa terasa segar.
 
Apalagi hujan rintik-rintik mulai turun membasahi bumi, membuat suasana makin segar dengan aroma khas tetumbuhan yang semerbak memenuhi udara. Itulah suasana yang selalu menyelimuti lokasi reklamasi bekas tambang kuari tanah liat PT Semen Gresik (SG) Tuban di Desa Telogowaru, Kecamatan Merak Urak. Rimbun dengan dedaunan yang lebat dan kaya dengan air yang keluar dari sejumlah embung (kolam penampungan air).
 
Keberadaan sejumlah embung itu, membuat kehidupan warga sekitarnya berubah drastis menjadi lebih sejahtera. Lantaran, lahan pertanian baik sawah maupun kebun mereka, tak lagi kekurangan air. Bahkan warga masih bisa memanfaatkan embung dengan membuat keramba untuk memelihara ikan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tanaman-tanaman di sekitar embung itu dikelola oleh warga yang menjadi petani anggota greenbelt yang dibina PT SG Tuban. Lahannya bekas tambang yang ditanami dengan bibit-bibit pohon pemberian PT SG Tuban. Di sela pepohonan itu juga masih bisa digunakan berbagai tanaman palawija yang
lain,” ujar Taselan, warga Dusun Pompongan, Desa Semampir, Kecamatan Merak Urak.
 
Sedangkan areal persawahan di sekitarnya, juga mengalami perubahan drastis. Karena lahan yang dulu dalam 1 tahun hanya bisa ditanami pada satu kali, mengandalkan pengairan dari turunnya air hujan, sekarang bisa
panen tiga kali dalam setahun.
 
Ali Mansur, pegiat lingkungan peraih Kalpataru 2010 untuk kategori perintis lingkungan karena perannya dalam perbaikan hutan mangrove di sepanjang pantai Tuban, berharap agar air embung yang melimpah itu dapat dimanfaatkan masyarakat Tuban lebih luas.
 
Saat ini air hanya bisa dimanfaatkan dan dirasakan warga di sekitar pabrik yang masuk ring 1 serta masyarakat yang mendapat aliran dari sungai yang bersumber dari embung. Padahal air itu masih bisa
dimanfaatkan untuk masyarakat Tuban lebih luas.
 
“Air embung hasil reklamasi itu berkah bagi masyarakat Tuban. Air sebanyak itu tidak habis untuk pertanian lebih luas. Masih bisa dialirkan hingga 10 kilometer ke selatan. Ribuan hektar lahan tandus dan
sawah tadah hujan, bisa menjadi areal persawahan produktif,” tandas Ali Mansur, Direktur Yayasan Mangrove Center Tuban.
 
Bukan hanya lahan pertanian, aliran air embung juga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang lain. Bahkan juga bisa digunakan untuk air minum, pemerintah daerah melalui PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum)  setempat tinggal mengolahnya saja.
 
“Itu bisa untuk minum, tinggal diolah dan didistribusikan ke rumah warga, sehingga tidak ada lagi krisis air bersih. Ini berkah dari kekurangan air jadi punya air melimpah, tinggal dibangun infrastrukturnya dan Pemerintah Tuban harus memprioritaskannya bergandeng tangan bersama PT SG Tuban,” imbuh Ali Mansur yang juga Pembina KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) Tuban ini.
 
Menurutnya, keberadaan PT SG Tuban menguntungkan, karena bisa menjadikan Tuban sebagai daerah subur dengan air melimpah. Padahal daerah lain, seperti Kabupaten Pasuruan yang memiliki sumber air Umbulan dengan debit 6.000 liter/detik, tapi terus menyusut tinggal 3.200 liter/detik.
 
Sementara, Kepala Departemen Komunikasi dan Sarana Umum PT SG Pabrik Tuban, Aris Sunarso, menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah memikirkan upaya untuk mengalirkan air embung seluas 72 hektar itu ke lahan-lahan pertanian lebih jauh lagi.
 
“Saya lagi memikirkan air melimpah itu, agar bisa dialirkan untuk lahan pertanian lebih jauh lagi. Bagaimana cara paling tepat memanfaatkannya. Jika didorong menggunakan pompa, berarti harus 24 jam penuh dan butuh bahan bakar. Kalau menggunakan semacam kincir-kincir angin, kuat atau tidak, masih saya pelajari,” ucap Aris. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif