"Tadi sudah saya larang menyeberang, tapi Rafly mungkin enggak dengar teriakan saya," kata kakak sepupu korban, Aimar Rahmat Syaifudin, 12, di rumah duka di Jalan Bagong Ginayan Gg VII, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (7/8/2015).
Aimar mengatakan peristiwa itu berawal saat Rafly hendak bermain ke daerah Ngagel Juwingan bersama dua temannya Eko dan Niwel. Namun, korban tak menyadari ada kereta yang hendak melintas dari arah Selatan (Wonokromo) menuju Utara (Gubeng). Seketika Rafly menyeberang hingga tersambar kereta hingga tewas.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Tadi sehabis pulang sekolah, adik saya mau bermain ke Ngagel Juwingan. Saat mau menyeberang, sama temannya sudah dilarang, namun dirinya tetap menerobos perlintasan," kata Aimar.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Gubeng AKP I Made Wasa mengatakan di perlintasan ada dua kereta yang berpapasan yang tidak disadari korban.
"Setelah kereta pertama melintas, korban langsung menyeberang tanpa menyadari adanya kereta dari arah selantan yang melintas, karena jarak terlalu dekat, korban langsung disambar dan tewas seketika," kata Made.
Anak pertama pasangan Nur Ali Mustofa, 38, dan Ana Trifana, 27, itu mengalami luka cukup parah di kepala. Jenazahnya langsung dievakuasi ke RS dr Soetomo, Surabaya.
"Saya enggak mau (Rafly) diautopsi karena itu murni kecelakaan," kata Ali didampingi istrinya.
Saat berita ini disusun, jenazah dibawa menuju rumah duka. Jenazah Rafly akan segera dimakamkan.
"Kami masih menunggu kedatangan jenazah dari rumah sakit biar langsung dimakamkan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(TTD)
