Ilustrasi: Seorang petani memantau tanaman padi terimbas kemarau panjang di Aceh. Foto: MI/Amiruddin Abdullah Reubee
Ilustrasi: Seorang petani memantau tanaman padi terimbas kemarau panjang di Aceh. Foto: MI/Amiruddin Abdullah Reubee (Amaluddin)

Sekitar 800 Desa di Jatim Krisis Air Bersih

musim kemarau
Amaluddin • 26 Juni 2019 17:18
Surabaya: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memetakan daerah di wilayahnya rawan terdampak bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Berdasarkan data BPBD, ada ratusan desa di Jatim mengalami krisis air bersih sebagai dampak kekeringan tahun ini.
 
"Jumlahnya ada sekitar 822 desa tersebar di berbagai daerah di Jatim terdampak kekeringan," kata Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Suban Wahyudiono saat dikonfirmasi, Rabu, 26 Juni 2019.
 
Suban menjelaskan desa yang mengalami kekeringan di Jatim terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok pertama adalah kering kritis sebanyak 566 desa, kering langka 236 desa, dan kering langka terbatas 20 desa. Pengelompokan kekeringan itu berdasarkan dampak sosial ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Disebut kering kritis karena persediaan air masyarakat kurang dari 10 liter per orang per hari, dengan jarak pemukiman ke sumber mata air lebih dari tiga kilometer. Sedangkan kering langka, persediaan air penduduk 10-30 liter per orang per hari, dengan jarak tempuh mengambil air 500 meter sampai tiga kilometer.
 
"Sementara kering terbatas, persediaan air per orang per hari hanya 30-60 liter. Dengan jarak mengambil air paling jauh 500 meter dari rumah," jelas Suban.
 
Suban kembali mengatakan pada kemarau tahun ini sebanyak 822 desa yang mengalami kekeringan meningkat dari tahun lalu, yakni 723 desa. Desa kering kritis pada tahun lalu sebanyak 538 desa, kering langka 176 desa, dan kering terbatas sembilan desa.
 
"Meningkatnya kekeringan tahun ini disebabkan karena datangnya kemarau lebih awal karena ada peningkatan suhu di Katulistiwa," ungkap Suban.
 
Suban mengaku telah melakukan antisipasi menghadapi kekeringan tahun ini. Di antaranya mengundang BPBD kabupaten/kota, rapat koordinasi untuk memetakan perkiraan kebutuhan air bersih di desa yang mengalami kekeringan. Hasil pemetaan, ada 566 desa yang masuk kategori kritis, 199 desa diantaranya tidak ada potensi airnya.
 
"Kami telah mengeluarkan surat edaran gubernur agar pemerintah kabupaten dan kota untuk siap siaga darurat siaga kebencanaan 2019. Atas imbauan itu, kami menyiapkan langkah antisipasi dengan menyuplai kebutuhan air bersih. Pada prinsipnya kami siap membagikan air bersih ke setiap desa yang meminta suplai air bersih," pungkas Suban.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif