Nadzir, warga Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, mengaku biasa BAB di tegalan. Bukan berarti ia tak memiliki kamar mandi tertutup atau water closed (WC) di rumahnya. Namun ia memiliki alasan sendiri.
“Saya hanya lebih suka buang hajat di tegalan. Merasa lebih nyaman ketimbang buang hajat di ruangan tertutup,” kata Nadzir di Sumenep, Selasa 14 Maret 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dia melanjutkan, semua anggota keluarganya BAB di WC. Hanya dia saja yang buang hajat di ruang terbuka. Biasanya, ketika ingin buang hajat, dia mencari tegalan yang ada tebingnya. Di atas tebing itulah, dia melepas ‘beban’ dalam perut itu.
Nadzir terperanjat saat ditanya potensi penyebaran penyakit akibat BAB sembarangan itu. Selama ini dia menganggap BAB seenaknya tidak menimbulkan hal negatif apa pun. Bahkan dia meyakini BAB di atas tebing jauh dari penyebaran penyakit, karena jarang dilalui orang.
“Tapi saya akan berusaha membiasakan diri buang hajat di WC,” ucapnya tersenyum.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep, A. Fatoni, berjanji akan berusaha lebih intens menyosialisasikan hidup bersih dengan tidak BAB sembarangan. Selain karena faktor ekonomi, kata dia, penyebab BAB sembarangan juga karena kebiasaan. Selebihnya karena taraf pendidikan.
“Ke depan kami akan lebih intens lagi mengupayakan agar masyarakat tidak buang hajat sembarangan,” jelasnya.
Fatoni mengaku baru 12 desa di Sumenep masuk kategori Open Defecation Free (ODF), artinya warga tak lagi buang air besar sembarangan. Ia optimistis seluruh desa masuk kategori ODF pada 2018.
Selain karena pemerintah daerah sudah meluncurkan pembangunan WC umum melalui instansi teknis, Dinkes juga telah melatih puluhan pemuda dari berbagai kecamatan untuk membuat WC. Harapannya, puluhan pemuda ini nanti membantu masyarakat yang kurang mampu dalam membangun WC.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
