Ketua Panitia Lokal (daerah) Muktamar NU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, mengatakan untuk menghindari politik uang, maka pemilihan ketua umum tidak dilakukan secara voting.
"Tentu saja tujuannya untuk menghindari kekhawatiran politik uang. Kalau saya, tentu menyarankan musyawarah mufakat," ujar Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) itu, kepada wartawan di Surabaya, Minggu (26/4/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Menurut dia, Muktamar NU berbeda dengan pilihan kepala daerah atau pemilihan lainnya, terlebih dalam pemilihan Rois Aam PBNU dilakukan dengan sistem "Ahlul Halli Wal Aqdi" atau bukan menggunakan sistem pemilihan langsung.
Kata Gus Ipul, pemilihan melalui suara terbanyak (voting), akan membuat pertikaian. Selain itu, lanjut dia, juga akan muncul kelemahan, antara lain lahir kampanye hitam antar pendukung, saling menjelekkan dan menjatuhkan.
"Yang paling penting adalah munculnya politik uang, itu yang ditakutkan, karena itu bisa merusak moral. Nah, di tubuh NU tidak boleh seperti itu karena pendiri NU dulu tidak mengajarkannya," tukas Mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor itu.
Muktamar ke-33 NU diselenggarakan di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015, dan dilaksanakan di empat pondok pesantren, yaitu Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, serta Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(ALB)
