Ketua panitia lokal dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Edi Labib Patriadi, mengatakan penerangan di gang-gang kecil di sekitar lokasi masih belum maksimal.
"Kami minta bantuan penerangan jalan umum," kata Edi dalam rapat terakhir persiapan Muktamar ke-33 NU, di Jombang, Selasa (28/7/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ketua panlok Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Mustajab, meminta disediakan generator set. "Ini untuk mengantisipasi jika ada gangguan listrik," ujarnya.
Ketua panlok Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Hamid Bisri, membutuhkan instalasi listrik. Sehingga ketika listrik padam, genset yang disiapkan secara otomatis bisa berfungsi. "Agar pelaksanaan tidak akan terganggu jika ada pemadaman dari PLN," tandasnya.
Ketua panlok Tebuireng, Lukman Hakim, menanyakan soal kekurangan dana yang dijanjikan panitia, yakni sebesar Rp150 juta.
Menanggapi keluhan-keluhan itu, Ketua Panitia Daerah Jawa Timur, Saifullah Yusuf, langsung meminta PLN untuk tidak mematikan listrik saat muktamar berlangsung. "Kami meminta PLN untuk memberi daya tak terbatas selama muktamar," kata Gus Ipul, sapaan Syaifullah. Untuk persoalan anggaran, dia berjanji akan membicarakannya dalam forum terpisah.
Muktamar ke-33 NU digelar mulai 1 hingga 5 Agustus, di Jombang, Jawa Timur. Para muktamirin ditempatkan di empat pesantren. Masing-masing Pondok Pesantren Bahrul Ulum (Tambakberas), Pondok Pesantren Darul Ulum (Peterongan), Pondok Pesantren Mambaul Maarif (Denanyar), serta Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
