"Mereka kan sudah masuk dalam sirkuit kepentingan elit PBNU untuk menerapkan Ahwa di Muktamar NU,” kata Koordinator Kaukus Muda NU Jombang, M. Shodiqin, Senin (15/6/2015).
Hal itu disampaikan Shodiqin menanggapi pertemuan kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kamis (11/6/2015) lalu. Pada pertemuan itu, para kiai sepuh menyatakan mendukung penerapan sistem Ahwa.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Kita sebagai anak muda di NU yang takzim kepada para kiai tentu saja menangis membaca berita hasil pertemuan di Kediri tersebut," ujarnya.
Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini mengaku sedih karena ada pihak yang menjauhkan para kiai sepuh itu dengan kehendak para kiai struktural NU tingkat cabang dan wilayah se-Indonesia. Sebab, lanjutnya, mayoritas PWNU dan PCNU telah menyatakan menolak sistem Ahwa.
"Ini dosa besar, karena telah menjauhkan keputusan kiai sepuh dengan keputusan cabang-cabang dan wilayah yang menolak Ahwa beberapa kali pertemuan, dari Munas hingga ke Pra-Muktamar,” paparnya.
Bukan hanya marah terhadap sutradara di balik pertemuan kiai-kiai sepuh tersebut, Aliansi Santri juga sedih karena pertemuan itu juga langsung merekomendasi nama-nama yang hadir untuk menjadi anggota Ahwa.
Sistem Ahwa hampir sama dengan sistem dewan suro yang di dalamnya terdapat para kiai sepuh. Nantinya, para kiai sepuh inilah yang akan memilih Rais Aam Syuriah PBNU jika sistem Ahwa yang dipakai pada Muktamar ke-33 NU.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
