Foto: Ruwat bumi di Pura Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur/MTVN_Nurul Hidayat
Foto: Ruwat bumi di Pura Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur/MTVN_Nurul Hidayat (Nurul Hidayat)

Ruwat Bumi di Pura Majapahit Mojokerto

Nurul Hidayat • 15 Maret 2015 12:20
medcom.id, Kabupaten Mojokerto: Ada suasana yang berbeda di Pura Majapahit, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Sabtu (14/3/2015). Tampak ratusan orang mengenakan baju dan ikat kepala (udeng) serba putih duduk menghadap Pura Majapahit.
 
Mereka adalah warga dari Pulau Bali yang berniat menggelar ritual ruwat bumi di Pura Majapahit Trowulan. Istilah ruwat bumi, terdiri dari dua kata yakni ruwat dan bumi. Ruwat berarti lebur, membuang, atau pulih kembali. Sehingga ruwat bumi merupakan salah satu cara untuk melepaskan diri dari dominasi energi negatif.
 
Saat memasuki Pura Majapahit, kita akan disambut aroma kayu cendana dan dupa yang dibakar. Sesajen dan janur juga melengkapi ritual ruwat bumi ini. Di depan teras pura, tampak ratusan orang berbaju serba putih duduk bersila menghadap pura. Di pendapa, set gamelan Jawa dan gamelan Bali pun siap dimainkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ratusan umat Hindu itu siap menggelar ritual bernama 'Ruwat Bumi Negeri Majapahit.' Suasana tenang namun sakral pun dapat dirasakan. Dupa dupa terus dibakar dan ditempatkan di beberapa sudut pura. Puja puji untuk para dewa dilafalkan oleh ratusan umat Hindu Bali itu. Sesekali lafal doa diselingi gerakan tangan tertentu. Dengan mata terpejam, beberapa kali mereka melempar sejumput beras ke arah depan.
 
Di tengah panasnya matahari, mereka tampak khusu melaksanakan ritual ruwat bumi. Sesekali genta digoyangkan sambil terus membaca doa dan mantra. Suasana semakin hangat setelah salah satu pemimpin ritual menginstruksikan para pemain gamelan memulai aksinya.
 
Seorang panitia kegiatan ini, Noko Prawiro mengatakan tak kurang dari 108 pendeta dari Bali, Blitar, dan Mojokerto terlibat dalam ritual ruwat bumi ini. Ritual ini bertujuan menolak bala dan bencana serta segala hal buruk yang akan menimpa bumi nusantara.  
 
’’Acara ini juga diikuti berbagai suku, ras, dan agama. Ritual (ruwat bumi) ini juga cara berterima kasih kepada leluhur," kata Noko.
 
Sejumlah pendeta perempuan tampak berdiri dan bersiap untuk menari. Ada yang bergerak seperti tari Bali, ada pula dengan gerakan yang lebih lambat. Perempuan yang disebutkan oleh seseorang dalam pengeras suara itu tengah mengalami trance atau kesurupan. Menurut mereka, para leluhur dan dewa telah turun menyambut ritual yang digelar.
 
Para penari pun merangsek ke arah teras pura dan menghampiri sesajen. Beberapa orang mengawal agar para pendeta yang kerasukan itu tidak tercebur ke dalam kolam yang berada di depan teras pura. ’’Lokasi ini vibrasinya paling tinggi,’’ ungkap seorang pendeta lainnya.
 
Setelah ritual doa bersama, para pendeta itu menggelar kirab keliling situs Kolam Segaran. Kirab ini diikuti oleh pemangku pura, pegiat budaya setempat, dan para pendeta. Selama keliling kolam, mereka tetap melafalkan mantra dan doa sembari membawa dupa dan memercikkan air suci. Kirab ini juga sempat menarik perhatian warga setempat dan pengguna jalan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(TTD)
TERKAIT
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif