Gula itu diangkut dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju pabrik kopi PT Santos Jaya Abadi, Sidoarjo. Dalam perjalanan, kuli angkut mencuri gula dengan menusuk karung gula dan menampungnya menggunakan pipa pvc (pralon) ke wadah lain.
"Setiap hari mereka bisa mendapatkan 15 sampai 20 karung gula curian," kata Wakil Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Surabaya Komisaris Besar Polisi Manang Soebekti, di Markas Polrestabes Surabaya, Selasa (29/9/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Gula curian itu dijual ke penadah bernama Slamet. Komplotan pencuri itu menjual gula curian dengan harga jauh lebih murah dari harga pasar yakni Rp3 ribu per kilogram.
"Kemudian oleh penadah gula ini dijual lagi di beberapa pasar tradisional dengan harga Rp6 ribu. Penadah sudah untung. Kalau sudah ada 18 ton berarti tinggal kalikan saja berapa keuntungannya," ujar dia.
Baca: Komplotan Pencuri Gula di Sidoarjo Dibekuk
Polisi menangkap tiga sopir truk Nopi Utomo, 30, warga Pabean Cantikan, Surabaya; Siswanto, 35, warga Manyar, Surabaya; dan Slamet Suswanto, 35, warga Dukuh Kupang, Surabaya. Tiga orang kuli angkut juga dibekuk yakni Mataki, 42, warga Maron, Probolinggo; Saher, 45, warga Jelbub, Kabubaten Jember; dan Maskur, warga Semampir, Surabaya, serta seorang penadah gula hasil curian, Slamet, warga Tegal Siwalan, Probolinggo.
Dari penangkapan ini, polisi mengamankan barang bukti berupa tiga unit truk, satu unit mobil pick up, enam karung gula curian, dan pipa pralon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(TTD)
