Kabid Penjagaan, Patroli, dan Penyidikan Kesyahbandaran Kelas Utama Tanjung Perak, Edi Sumarsono, mengatakan, mestinya dengan cuaca buruk ini, pihak kapal menyediakan bahan bakar lebih banyak lagi.
"Karena itu, kami telah memberikan peringatan pertama kepada manajemen kapal," kata Edi, dikonfirmasi, Jumat, 10 Februari 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Edi mengatakan, pihaknya telah melakukan investigasi dengan meminta keterangan kepada awak kapal, manajemen kapal, dan Atosim Lampung Pelayaran selaku agen pelayaran. "Dari data yang kami punya, ternyata KM Mutiara Sentosa I yang berangkat dari Balikpapan menuju Surabaya membawa BBM 47 ton. Sebanyak 45 ton adalah BBM jatah BBM subsidi, dan 2 ton non subsidi," ujarnya.
KM Mutiara Sentosa I merupakan kapal tol laut, sehingga mendapatkan subsidi BBM. Selanjutnya, KM Mutiara Sentosa I menambah tangkinya dengan 2 ton BBM nonsubsidi. Total BBM yang dibawa KM Mutiara Sentosa I adalah 47 ton, ditambah sisa BBM yang ada di tangki kapal. Sehingga diperkirakan sekitar 45-50 ton.
"Kami tak tahu pasti ada berapa sisa BBM yang ada di tangki kapal," katanya.
Meski demikian, kata Edi, kapal tersebut mestinya dari Balikpapan menuju Surabaya harusnya menghabiskan sekitar 40-45 ton BBM. Dan kapal penumpang tersebut sudah mengisi tangkinya dengan jumlah BBM pada angka kelaziman tersebut. Namun cuaca buruk menyedot BBM dengan cepat karena kapal harus terus bergerak kencang di tengah cuaca buruk.
Namun, kata Edi, ada hal yang tidak dilakukan oleh pihak kapal, terutama Kepala Kamar Mesin (KKM), adalah tidak menyediakan BBM cadangan. Padahal seharusnya wajib ada BBM cadangan sekitar 20-50 persen dari total kapasitas tangki kapal.
"Kapasitas tangki kapal tersebut sebanyak 74 ton. Jadi intinya pihak kapal lalai. Karena itu kami beri surat peringatan pertama," tandasnya.
KM Mutiara Sentosa 1 mengangkut 180 penumpang dari Balikpapan, Kalimantan Timur. Dalam perjalanan, Jumat dini hari, 3 Februari 2017, kapal kehabisan bahan bakar sehingga terombang-ambing di perairan Madura.
Kapal bisa dievakuasi ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Namun, insiden ini membuat sejumlah penumpang mengaku mengalami kerugian. Pasalnya, makanan dan sembako yang mereka bawa busuk akibat kapal mogok.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
