Sielviana Sholikah dan Natasha Salsabella menunjukkan proses pembuatan permen antinyeri haid. Foto: Metrotvnews.com/Deo
Sielviana Sholikah dan Natasha Salsabella menunjukkan proses pembuatan permen antinyeri haid. Foto: Metrotvnews.com/Deo (Deo Dwi Fajar Hari)

Siswi SMK Ubah Rumput Jadi Permen Penghilang Nyeri Haid

inovasi
Deo Dwi Fajar Hari • 25 Mei 2016 20:56
medcom.id, Semarang: Sebagian orang tak memandang penting rumput. Namun, tidak bagi Sielviana Sholikah, 17, dan Natasha Salsabella, 17. Kedua siswa SMK Citra Medika, Sragen, Jawa Tengah, itu mengubah rumput teki liar menjadi permen penghilang nyeri haid.
 
Ide membuat permen antinyeri haid dari rumput itu berawal dari pelajaran farmakognosi tentang obat dari tumbuhan. Mereka mendapati tumbuhan liar bernama rumput teki yang banyak hidup di sekitar ternyata memiliki kandungan ampuh meredakan nyeri, khususnya untuk wanita haid.
 
"Akhirnya muncul ide membuat permen dari rumput teki ini. Biasanya rumput teki dianggap tidak berguna dan hanya untuk makanan ternak. Tapi, kita bisa olah jadi permen yang berkhasiat menghilangkan nyeri saat haid," kata Natasha, siswi asal Desa Butuh, Gedongan, Sragen, kepada Metrotvnews.com, Rabu (25/5/2016).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Natasha dan Sielviana menemukan zat flavonoid pada rumput teki. Zat itu mampu menghambat siklooksigenase yang merupakan sumber rasa nyeri saat perempuan mengalami haid.
 
"Kenapa kita buat permen, karena permen kan mudah dikonsumsi secara langsung tanpa menggunakan air seperti obat-obat lainnya. Apalagi obat ini alami tanpa bahan pengawet, " ujar Natasha.
 
Cara membuatnya cukup mudah. Cukup mengambil umbi kecil rumput teki sekitar 50 gram lalu dikupas dan dicuci hingga bersih. Umbi itu kemudian diblender dengan air 20 mililiter. Selanjutnya, cairan dimasak beberapa menit dengan tambahan gula pasir 100 gram. 
 
Biasanya, untuk 20 mililiter ekstrak rumput teki yang telah diblender, dihasilkan 10 permen siap konsumsi. "Agar memiliki rasa, bisa ditambah perasa sesuai selera. Cairan kemudian dicetak. Setelah mengeras, permen dikemas," katanya.
 
Natasha mengatakan riset permen ini cukup singkat. Mereka hanya butuh satu bulan dengan modal Rp50 ribu. Modal itu untuk membeli gula, pewarna makanan, dan kemasan. Sedangkan rumput teki bisa didapat secara gratis di kebun, hutan, maupun pekarangan rumah dan sekolah.
 
Ia berharap suatu saat permen obat dari rumput teki bisa diproduksi massal. Saat ini permen antinyeri haid
baru diedarkan di internal sekolah. Temuan ini masih dalam proses perizinan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah.
 
"Secara bertahap sudah kita jual untuk kalangan sendiri. Harganya Rp500 satu bijinya. Tapi kalau satu kemasan Rp3 ribu, " ujar Sielvi.
 
Saat ini permen antinyeri haid juga masih dilombakan di ajang Kreasi dan Inovasi Masyakat (Krenova) yang digagas Badan Penelitian dan Pengembangan (Blitbang) Jawa Tengah.
 
Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno Haroeno, mengapresiasi temuan dua siswi itu. Menurutnya, selama ini rumput teki belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat. "Balitbang akan fasilitasi hasil kreasi ini," ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif