Warga dan masyarakat mengamati gerhana matahari di halaman Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Rabu 9 Maret 2016 (Foto: MTVN/Miski)
Warga dan masyarakat mengamati gerhana matahari di halaman Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Rabu 9 Maret 2016 (Foto: MTVN/Miski) (Miski)

Warga Malang Amati Gerhana Matahari Secara Astrofotografi

gerhana matahari total
Miski • 09 Maret 2016 16:23
medcom.id, Malang: Ribuan orang memadati Masjid AR Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, menyaksikan gerhana matahari, Rabu 9 Maret.
 
Pantauan Metrotvnews.com, satu per satu warga dan mahasiswa UMM bergantian melihat gerhana matahari secara astrofotografi, usai Salat Kusuf. Sebagian lainnya menyaksikan proses gerhana matahari melalui layar proyektor.
 
Ketua Prodi Ahwal Al-Syakhsiyah Idaul Hasanah mengatakan, sebesar 75 persen gerhana matahari sabit terlihat menggunakan alat astrofotografi. Proses gerhana matahari itu berlangsung dari pukul 06.20 WIB hingga 08.32 WIB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Semula kami gunakan filter untuk keamanan mata. Saat dibuka filter yang terpasang di kamera, gambarnya sangat jelas di laptop," kata Idaul Hasanah, di Masjid AR Fachruddin UMM, Jalan Raya Tlogomas, Malang, Jawa Timur, Rabu (9/3/2016).
 
Tepat pukul 07.17 WIB merupakan puncak gerhana matahari. Namun, hanya berlangsung dua menit. Kendati sempat mendung, bentuk matahari sabit terlihat sangat jelas.
 
"Yang bahaya kan saat proses mencapai gerhana matahari, ketika puncak gerhana tidak apa-apa," ungkap dia.
 
Proses gerhana matahari ini pun sudah direkam dan nantinya akan dijadikan bahan untuk kepentingan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
 
Astrofotgrafi merupakan sebuah jenis khusus dari fotografi yang memerlukan gambar pencatatan obyek astronomi dan daerah besar di langit malam. Idaul menyebut alat astrofotografi ini biasanya digunakan untuk penentuan awal Ramadan. Namun, fungsinya juga dapat memantau proses gerhana.
 
"Kebetulan di Jawa kan tidak total gerhana mataharinya, tapi sedikit banyak menjawab rasa ingin tahu masyarakat. Apalagi momennya sangat langka," papar dia.
 
Salah satu mahasiswi, Fitri Astutik, mengaku semula hanya melihat gambar gerhana matahari di media. Namun, kali ini ia merasa senang karena dapat melihat secara langsung melalui alat astrofotografi.
 
"Tadi sempat melihat langsung, kurang jelas sih, tapi sedikit banyak menjawab rasa penasaran saya," kata Fitri.
 
 
 

(TTD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif