"Satu tangkai bisa menghasilkan lebih dari 30 keping implan," kata Menteri Riset, Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir saat uji coba produksi prototipe implan tulang berbahan stainless steel 316L di PT Zenith Allmart Precisindo, Balongbendo, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin, 20 Februari 2017.
Investment Casting, lanjut Nasir, juga mampu menghasilkan produk near shape finish karena cetakan sudah sesuai produk akhir. Jenis teknologi produksi massa ini pun mampu menekan harga produk menjadi lebih rendah.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Hitungan awal, diperkirakan harga bisa 70 persen lebih murah dibanding produk impor," jelas Nasir.
Saat ini, industri implan nasional sudah mulai menggunakan metode produksi permesinan. Namun, permesinan dengan bahan baku impor mengakibatkan metode ini tidak efisien karena prosesnya lama.
"BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) melalui pusat tekhnologi material sudah bekerjasama dengan PT Zenith serta RSU Dr. Soetomo dan berhasil melakukan pengembangan tekhnologi pembuatan medical grade stainless steel 316L. Mereka menggunakan pemaduan murni bahan baku lokal dan hasil industri semelter dalam negeri yakni Feronikal Pomalaa," terang Nasir.
Menurut Nasir, hasilnya telah memenuhi komposisi kimia bahan sesuai ASTM F138 (implant quality) dan kekuatan mekanis ASTM F138. Hasil uji medis tidak berbeda dengan implan import buatan Swisszerland.
"Kalau masalah harga, nantinya bisa turun 20-30 persen dari harga pasaran," katanya lagi.
Saat ini, banyak implan yang beredar dipasaran. Namun, peredarannya tidak terkontrol karena melalui pasar gelap. Melalui percepatan pengembangan industri farmasi dan alkes, pemerintah sangat mendukung untuk pembuatan implan tulang dalam negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(NIN)
