Banjir di wilayah Kabupaten Sidoarjo --Antara--
Banjir di wilayah Kabupaten Sidoarjo --Antara-- (Syaikhul Hadi)

Dataran Rendah Alasan Sidoarjo Rawan Bencana

penanggulangan bencana
Syaikhul Hadi • 05 April 2017 16:44
medcom.id, Sidoarjo: Kabupaten Sidoarjo masuk dalam tataran daerah rawan bencana. Hal itu lantaran kawasan di Jawa Timur itu lebih rendah dari kawasan perairan (sungai). 
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidoarjo, Dwijo Prawito, mengatakan air bisa muncul secara tiba-tiba. Terlebih intensitas hujan yang tinggi sehingga air sungai meluap di Sidoarjo.
 
"Kalau tingkat kerawanan, Sidoarjo masih tinggi. Karena di sini masih termasuk kawasan rendah," kata Dwijo saat dihubungi melalui sambungan selularnya, Rabu 5 April 2017. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, tingginya kerawanan bencana itu harus diiringi langkah-langkah penanggulangan. Pihaknya pesimistis mengatasi persoalan bencana hingga tuntas. Karena faktor utama yang terjadi hingga saat ini yaitu kabupaten Sidoarjo masuk dalam dataran rendah. 
 
Ada beberapa sungai besar di Sidoarjo. Misalnya Sungai Buntung, Sungai Pucang, Mangetan Kanal, Mangetan Porong, Sungai Wilayut, sungai Kedensari, dan Avoer Sidokare. 
 
"Kalau mau tuntas semua, tentunya tidak bisa langsung. Harus melakukan beberapa proses dan tahapan. Karena permasalahan banjir merupakan permasalahan yang kompleks," kata Dwijo. 
 
Beberapa kawasan rawan terjadinya banjir. Seperti Kawasan Krian, Taman, Waru, Gedangan, Kota, Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Meski begitu, BPBD bersama SKPD terkait melakukan upaya-upaya penanggulangan. Misalkan, pengerukan sungai, bersih-bersih sampah, perbaikan drainase, dan bersih-bersih bantaran sungai yang ada di Sidoarjo. 
 
"Upaya itu sudah kami lakukan. Dan kami akan terus berkoordinasi dengan SKPD terkait untuk menanggulangi persoalan bencana banjir," tegasnya. 
 
Tak banyak anggaran yang didapat oleh BPBD, itu pun hanya seputar penanganan saat terjadinya banjir atau bencana lainnya. Untuk tahun ini, ada sekitar Rp12 miliar yang dikucurkan melalui APBD dan Rp3 miliar dari APBN. 
 
"Kalau anggaran yang ada di BPBD, diperuntukkan saat terjadinya bencana. Misalkan banjir, evakuasi warga, alat-alat perlengkapan bagi warga yang terkena bencana, makan dan minum warga terdampak, dan lain-lain. Sedangkan untuk penanganan (antisipasi) adanya bencana, berupa perbaikan-perbaikan itu masing-masing sudah ditangani dinas terkait," ungkap Dwijo. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif