"Kami akan menyelidiki mulai Senin depan, karena kondisi awak kapal masih kelelahan," kata Kepala Bidang Penjagaan Patroli dan Penyidikan Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Edi Sumarsono di Surabaya, Sabtu 4 Februari 2017.
Kapal penumpang jenis roll on-roll off (roro) tiu itu berangkat dari Balikpapan pada Rabu, 1 Februari. Kapal tersebut dijadwalkan sampai di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Jumat, 3 Februari, pukul 06.00 WIB. Sayangnya, kapal sampai tak tepat waktu lantaran kehabisan bahan bakar minyak (BBM).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Kapal yang mengangkut sebanyak 180 penumpang, dan 50 truk itu kehabisan bahan bakar di perairan dekat Karang Jamuang, Jawa Timur, pada Jumat dini hari.
"Ternyata KM Mutiara Sentosa I kehabisan bahan bakar akibat cuaca buruk. Mesin kapal dipaksa memecah gelombang tinggi. Inilah yang akan kita dalami kebenarannya dalam penyelidikan nanti," terang dia.
Baca: Kapal Terombang-ambing di Laut Jawa Tiba di Tanjung Perak Surabaya
Eddy Sarwoyo, nakhoda KM Mutiara Sentosa I, mengklaim telah mengisi BBM lebih banyak dari kebutuhan. Menurut dia, tangki kapal telah terisikan 46 ton BBM untuk berlayar dari Balikpapan menuju Surabaya.
"Balikpapan ke Surabaya itu normalnya memakan waktu selama 40 jam dan biasanya menghabiskan bahan bakar 40 ton. Kami isi 46 ton, jadi sudah kami cadangkan enam ton," ujar dia.
Ia berdalih lambatnya waktu tempuh yang dihadapi menyebabkan kapal kehabisan BBM. Menurut dia, seharusnya waktu tempuh Balikpapan-Surabaya hanya 40 jam. Namun, dalam waktu 44 jam kapal baru sampai di perairan dekat Karang Jamuang.
Begitu tahu kapal mogok, Sarwoyo mengaku langsung melapor ke agen pelayaran PT Atosim di Surabaya. "Waktu itu agen menyanggupi untuk mengirim bahan bakar. Jadi saya kira persoalannya sudah selesai. Tapi ternyata terkendala cuaca buruk, kapal dari agen yang mengangkut bahan bakar untuk kita terpaksa berlindung di Karang Jamuang," tutur dia.
Karena itu, ia baru melapor ke Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak melalui menara siar di Karang Jamuang, pada sekitar pukul 13.00 WIB, Jumat siang, atau 12 jam sejak kehabisan bahan bakar.
"Sekalian kita minta dievakuasi karena kondisi penumpang sudah sangat kelelahan akibat diombang-ambing gelombang tinggi, ditambah persediaan makanan dan minuman sudah menipis," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(AZF)
