Senin petang, 29 Februari 2016, beberapa anggota Densus memasuki area makam keramat. Tak ada warga yang bisa menduga-duga alasan Densus ke area tersebut.

(Densus saat menangkap dua terduga teroris di makam keramat di Kabupaten Malang, 29 Februari 2016, MTVN - Aditya Mahava)
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tak lama berselang, Densus membawa dua pria dari dalam sebuah pendopo di area tersebut. Menurut Kapolres Malang, AKBP Yudo Nugroho, kedua pria itu berkaitan dengan aksi terorisme dan peledakan bom di Jakarta pada 14 Januari 2016.
Area makam keramat itu boleh jadi sebagai tempat persembunyian yang aman. Nyatanya, KW dan S berada di area tersebut selama sepekan tanpa ada warga yang mencurigai.
Kondisi alam yang menjadi alasan. Lokasi makam berada di area perhutanan milik Perhutani Malang.
Dari pusat kecamatan, Metrotvnews.com menelusuri hutan pinus dan sungai yang membelah bukit menuju Alas Kramat, Desa Patok Picis. Ada pula beberapa tanjakan yang membuat pengalaman berkendara cukup menegangkan.

(Polisi di lokasi penangkapan dua terduga teroris di makam keramat di Kabupaten Malang, MTVN - Aditya Mahatva)
Sebenarnya, jarak makam dari pusat Kecamatan Wajak hanya 25 Km. Namun medan yang cukup sulit mengakibatkan perjalanan memakan waktu hingga satu jam. Bila berkendara dari pusat Kabupaten Malang, waktu tempuhnya mencapai lebih dua jam menuju makam.
Juru kunci makam, Sukirno, awalnya mengira KW dan S layaknya warga yang berziarah ke makam tersebut. Sebab sudah biasa warga berziarah dan menginap di makam keramat itu.
"Paling ramai ya malam Jumat. Pengunjung sampai 30 orang lebih, bahkan ada yang menginap sampai sebulan melakukan ritual di makam di sini berharap dapat berkah," kata Sukirno kepada Metrotvnews.com, Selasa (1/3/2016).
Para peziarah, kata Sukirno, meyakini mendapat berkah bila melakukan tirakat di area makam itu. Sebab, dua tokoh legenda dimakamkan di kawasan tersebut.
Kepala Desa Patok Picis, Suleman, membenarkan lokasi makam yang menjadi tujuan para peziarah. Alasan mereka bermacam-macam.
"Ada yang itikaf dan mengasingkan diri untuk mendapatkan petunjuk dari masalah masing-masing," kata Suleman.
Bentuk ziarahnya pun beragam. Ada yang hanya membawa dan menaburkan bunga. Ada yang membakar dupa. Ada juga yang berzikir dan melakukan puasa di sekitar makam.
Konon, menurut cerita yang beredar dari leluhur warga Patok Picis, Setyo dan Setuhu ini bertarung sampai mati karena keduanya sama-sama kuat dan sakti. Hingga akhirnya tewas di tempat ini.
Cerita tentang tewasnya Setyo dan Setuhu terdapat dalam legenda Ajisaka. Cerita itu mengisahkan dua utusan yang sangat setia dan teguh menjalankan amanat dari pimpinan mereka, Raja Ajisaka.
Setyo bermaksud mengambil keris milik Ajisaka dari tangan Setuhu. Namun Setuhu menolak karena menjaga amanat dari Ajisaka. Setuhu bersikukuh Ajisaka yang mengambil sendiri keris itu dari tangannya. Sebab Ajisaka berpesan pada Setuhu untuk tidak memberikan keris itu kepada seiapapun.
Lantaran saling mempertahankan amanat, Setuhu dan Setyo pun beradu kesaktian. Hingga akhirnya, mereka tewas di area tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
