Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal (Anwar Sadat Guna)

Perusahaan Asing Ramai Relokasi ke Batam

investasi
Anwar Sadat Guna • 12 Februari 2019 18:18
Batam: Batam masih menjadi wilayah tujuan investasi bagi perusahaan asing di luar negeri. Beberapa investor bahkan merelokasi usaha atau industrinya ke Batam karena kuantitas proyek dan tingginya pemesanan yang harus dikerjakan.
 
Perusahaan yang sudah relokasi ke Batam adalah Pegatron. Selain merelokasi usahanya ke area industri PT Sat Nusapersada, Pegatron atau PT Pegatron Technology Indonesia juga membangun pabriknya di Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Kota Batam.
 
Manager Admin and General Affair Kawasan Industri Batamindo, Tjaw Hioeng, mengatakan Penanaman Modal Asing (PMA) asal Hongkong tersebut resmi membuka pabriknya di Batamindo. Perusahaan tersebut sudah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Investasi awal yang ditanamkan Pegatron di Batamindo, kata Tjaw, sebesar 3,2 juta dolar AS (Rp44,9 miliar) dan tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 120 orang.
 
"Untuk tahap awal akan menempati tiga gedung dengan luasan total sebesar 10.000m2," ujat Tjaw kepada Medcom.id, Selasa, 12 Februari 2019.
 
Perusahaan berpusat di Jepang, PT Maruho Hatsujyo Batam, juga telah mendapatkan NIB dan segera beroperasi. Nilai awal investasi perusahaan ini sebesar 1,6 juta dolar AS (Rp22,46 miliar) dengan jumlah tenaga kerja 70 orang.
 
Selain dua PMA tersebut, perusahaan asing lain yakni Excelitas Amerika juga merelokasi pabriknya ke Batam. Kantor pusat perusahaan ini berada di California, Amerika Serikat.
 
"Relokasi pabrik Excelitas yang kantor pusatnya berada di California, Amerika Serikat akan dilakukan secara bertahap ke Batam," ujar Deputi 3 Badan Pengusahaan (BP) Batam Dwianto Eko Winaryo. Lokasi relokasi yang dipilih yakni Kawasan Industri Batamindo.
 
Sekadar diketahui, sejak 1994 perusahaan Excelitas sudah beroperasi di Batamindo dan mempekerjakan 1.800 tenaga kerja. Tahun ini perusahaan tersebut mendapatkan banyak proyek sehingga dilakukan relokasi bertahap dari California untuk dikerjakan di Batam.
 
Tjaw menambahkan, debotttle necking atau menghilangkan sumbatan-sumbatan yang menghambat kinerja sektor manufaktur seperti tata kelola upah, produktivitas, keterampilan, regulasi dan biaya ekonomi yang tinggi perlu mendapat perhatian serius pemerintah.
 
"Selain itu, yang menjadi perhatian kita sekarang adalah tidak seimbangnya antara produkvitas dengan upah pekerja yang terus meningkat, kemudian biaya logistik yang cukup tinggi serta regulasi yang sangat komplek," ujarnya.
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi