Panglima Laut Kota Banda Aceh, Rusdi AR, mengatakan, hasil tangkapan nelayan mencapai 400 ton tiap hari. Namun, ikan-ikan yang tidak habis terjual tidak bisa disimpan dalam waktu lama. Karena, tidak ada tempat pendinginan (cold storage) dan tempat penyimpanan ikan yang memadai. Selama ini, para nelayan hanya menyimpan ikan dalam fiber dan didinginkan menggunakan es batu.
"Ikan yang disimpan dalam fiber hanya bertahan sampai dua hari, kalau tidak terjual terpaksa kita buang," ungkapnya pada Metrotvnews.com, Selasa (19/4/2016) di Tempat Pelelangan Ikan Lampulo.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Rusdi mengatakan, beberapa jenis ikan, seperti tongkol dapat rusak dalam hitungan jam. Tidak jarang pihaknya harus menjual ikan-ikan tersebut seharga Rp5.000 per kilogram agar dibeli konsumen. "Jika tidak laku maka terpaksa dibuang ke laut," tuturnya.
Sementara itu tauke bangku atau pemilik perahu nelayan Hikmah Fajar, Ayi Yunus mengatakan faktor yang membuat banyaknya ikan terbuang di Aceh karena tidak adanya pasar luar bagi nelayan untuk menjual hasil laut. Hingga saat ini, ungkap Ayi, pihaknya hanya mengandalkan masyarakat lokal sebagai pasar utama.
Dirinya mengharapkan pemerintah bisa membuka jalan bagi para nelayan agar bisa memasarkan hasil laut Aceh ke provinsi lain di Indonesia seperti Padang, Palembang, dan Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
