Riau Tetapkan Status Siaga Banjir dan Longsor
ilustrasi Medcom.id
Pekanbaru: Selama tiga tahun berturut-turut 2016-2018 bebas dari kabut asap, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau secara resmi mencabut status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah berlangsung sejak Januari hingga November 2018.

Sebagai gantinya, Riau menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor hingga akhir Desember nanti menyusul lima kabupaten lainnya yang telah menetapkan status serupa.

Penetapan status siaga banjir dan longsor serta pencabutan status siaga darurat Karhutla dilakukan di Kantor Gubernur Riau, Sabtu, 1 Desember 2018.


"Selama tiga tahun berturut-turut Riau telah berhasil bebas dari ancaman kabut asap. Kita mengakhiri status siaga darurat Karhutla dan menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor pada musim hujan saat ini," kata Asisten 1 Setdaprov Riau Ahmadsyah Harrofie dalam Rapat Koordinasi penanganan bencana di Kantor Gubernur Riau.

Saat ini sebanyak lima kabupaten di Riau telah menetapkan status siaga banjir dan longsor. Kelimanya yaitu Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi. Bahkan, empat kabupaten kecuali Pelalawan telah menaikkan status bencana menjadi tanggap darurat banjir dan longsor.

"Posko banjir didirikan di Kantor BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Riau. Koordinasi dalam kondisi siaga akan terus kita lakukan," jelasnya.

Sementara terhitung sejak 14 Januari hingga November 2018, luas hutan dan lahan di Riau yang terbakar mencapai 5.776,46 hektar. Selain itu, satgas gakkum siaga darurat Karhutla Riau telah menangkap sebanyak 35 tersangka pembakar hutan.

"Luas lahan yang terbakar hingga saat ini mencapai 5.776,46 hektare. Kami akan mengakhiri status siaga darurat Karhutla pada 30 November 2018 karena Riau dalam kondisi musim hujan," kata Wakil Komandan Satgas Siaga Darurat Karhutla Riau yang juga Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau, Edwar Sanger di Pekanbaru.

Dijelaskannya, rekapitulasi luas hutan dan lahan terbakar di kabupaten dan kota se Riau yaitu Rokan Hulu seluas 99 hektarr, Rokan Hilir 1.985.35 hektare, Dumai 512.25 hektare, Bengkalis 576.95 hektare, Meranti 963.56 hektare, Siak 157.25 hektare, Pekanbaru 52.6 hektare, Kampar 127 hektare, Pelalawan 266.5 hektare, Indragiri Hulu 576 hektare, Indragiri Hilir 458 hektare, dan Kuantan Singingi seluas 2 hektare.

"Daerah yang terluas terbakar yaitu Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti," jelasnya.

Sedangkan jumlah tersangka pembakar sebanyak 35 orang. Sebanyak 22 tersangka ditahan di Rutan Polri yang terdiri dari Pelalawan 3 tersangka, Rokan Hilir 6 tersangka, Siak 1 tersangka, Dumai 3 tersangka, Indragiri Hulu 3 tersangka, Indragiri Hilir 2 tersangka, Meranti 1 tersangka, dan Rokan Hulu 3 tersangka. Selain itu, sebanyak 13 tersangka telah dalam tahap II yang terdiri dari Indragiri Hilir 1 tersangka, Pelalawan 1 tersangka, Dumai 3 tersangka, Bengkalis 2 tersangka, Rokan Hulu 1 tersangka, Kampar 1 tersangka, dan Rokan Hilir 4 tersangka.

"Semua tersangka perseorangan dan tidak dari perusahaan," jelasnya.




(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id