Polair Polda Kepri menggagalkan kegiatan memperjualbelikan 148 ekor penyu di kawasan Teluk Mata Ikan, Batam, Provinsi Kepri.
Polair Polda Kepri menggagalkan kegiatan memperjualbelikan 148 ekor penyu di kawasan Teluk Mata Ikan, Batam, Provinsi Kepri. (Anwar Sadat Guna)

Polisi Gagalkan Penjualan 148 Ekor Penyu di Batam

hewan dilindungi
Anwar Sadat Guna • 24 April 2019 11:58
Batam: Polisi menggagalkan kegiatan jual beli 148 ekor penyu di Pantai Teluk Mata Ikan, Batam, Provinsi Kepri. Satwa dilindungi itu diangkut menggunakan truk lalu di letakkan di keramba Tanjungpiayu Laut. Polisi menetapkan seorang tersangka dalam kasus tersebut.  
 
Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol S Erlangga mengatakan, kasus itu terungkap saat jajaran Kapal Patroli (KP) Baladewa - 8002 Polda Kepri sedang melakukan patroli rutin di perairan wilayah Batam dan sekitarnya. 
 
"KP Baladewa - 8002 yang sedang patroli menggunakan ship tender di perairan sekitar pantai Teluk Mata Ikan, Jumat, 19 April 2019 sekitar pukul 02.00 WIB, berhasil menggagalkan kegiatan memperjualbelikan penyu di lokasi. Terdapat 148 ekor penyu yang diperjual belikan," ujar Erlangga, Selasa, 23 April 2019. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak 148 ekor penyu tersebut, terdiri dari; 39 ekor jenis sisik, 79 ekor jenis hijau, dan 30 ekor dalam kondisi mati. Seorang pria berinisial K berhasil diamankan polisi di lokasi. 
 
Dirpolair Polda Kepri Kombes Pol Benyamin Sapta menambahkan, penyu yang diamankan di lokasi diduga akan  digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan yaitu dengan cara melepas penyu ke laut. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh turis dari Malaysia dan Singapura. 
 
"Penyu tersebut diperjualbelikan dengan harga Rp500.000 per ekor. Di beli dari masyarakat kemudian dijual kembali dengan harga kisaran Rp1 juta hingga Rp1,5 juta bahkan sampai Rp3 juta per ekor. Harga tersebut menyesuaikan ukuran penyu," ungkapnya. 
 
Dikatakan Benyamin, hal ini merupakan pelanggaran terhadap Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dari sekian banyak penyu yang ditemukan, kata dia, beberapa di antaranya mengalami luka akibat proses perburuan atau penangkapan oleh pelaku.
 
"Untuk itu, penyu yang masih hidup kita lakukan upaya penyelamatan dengan pemeriksaan oleh dokter hewan dan evakuasi ke penangkaran di Pulau Mencaras," ujarnya. Juga hadir Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Riau, Kepala TU Karantina ikan Batam, dan Kepala PSDKP Batam. 
 
Benyamin mengatakan, barang bukti yang diamankan, yaitu; satu unit truk dan 148 ekor penyu. Hingga saat ini, polisi masih memeriksa pelaku berinisial K. "Pasal yang dilanggar pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan c UU RI no.5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem jo pasal 55 KUHP Pidana," pungkasnya. 
 
Ia menambahkan, untuk jenis penyu ini dilindungi oleh Undang-Undang no 5 tahun 1990. Penyu ini juga tidak bisa diperjualbelikan, atau memiliki, menyimpan, komsumsi ataupun untuk dijadikan hiasan. Yang berwenang melakukan pemeliharaan, penyelematan, dan penetasan telur hanya lembaga Konservasi berizin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Perhutanan.

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif