Banjir dan Longsor di Mandailing Natal, 13 Tewas
Desa Sikara-kara IV, Natal, Sumatera Utara, yang diapit dua sungai besar direndam banjir setinggi 1,5 meter. Istimewa
Jakarta: Banjir dan longsor melanda sembilan kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sementara ini mencatat 13 jiwa meninggal dan sepuluh lainnya hilang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut 11 murid di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, meninggal. Mereka tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang pada Jumat sore, 12 Oktober 2018.

"Saat itu jam pelajaran sedang berlangsung," kata Sutopo dalam keterangan yang diterima Medcom.id, Sabtu, 13 Oktober 2018.


Diperkirakan sepuluh orang hilang akibat Sungai Aek Saladi tiba-tiba meluap dan membawa lumpur. Jumlah korban hilang masih dapat berubah.

Baca: 400 KK Terisolasi akibat Banjir Bandang di Natal

Sementara itu, korban jiwa bertambah setelah kendaraan masuk sungai dan hanyut pada Sabtu. Satu polisi dan seorang pegawai PT Bank Sumut tewas. Dua orang berhasil diselamatkan dari kendaraan yang hanyut.

Longsor juga terjadi di delapan titik akibat hujan yang turun seharian. Banjir dan longsor di Mandailing Natal merobohkan 17 rumah, menghanyutkan lima unit rumah, dan merendam ratusan rumah dengan ketinggian 1-2 meter.

Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban masih dilakukan. Kondisi medan berat karena desa-desa terdampak berada di pegunungan dan pinggir hutan. Akses ke sejumlah titik juga sulit dijangkau karena rusak.



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id