Kemasan Abon untuk Narkoba Didesain Anti x Ray
Jajaran Polda Riau dan Polresta Pekanbaru mengungkap kemasan baru narkoba yang digunakan sindikat narkoba, di Mapolda Riau, Kamis 25 Oktober 2018.
Pekanbaru: Sindikat narkoba menggunakan berbagai cara untuk memuluskan peredaran narkoba di Tanah Air. Salah satunya, membuat kemasan baru narkoba untuk mengelabui petugas. Terbaru, kemasan yang dibikin sindikat tersebut berupa kemasan makanan bertuliskan Abon Ikan Tuna. 

Kemasan itu berhasil diungkap Direktorat Reserse Narkoba Polda Riau dan Polresta Pekanbaru saat meringkus dua tersangka narkoba di Pekanbaru. Keduanya yakni tersangka MK dan MS. Mereka masing-masing ditangkap di Bandara Sultan Syarif Kasim dan lobby Hotel Evo Pekanbaru.

"Ini modus baru dengan membuat kemasan baru. Tujuannya untuk mengelabui petugas. Seakan-akan berisi abon tetapi bukan, melainkan narkoba," ungkap Kapolda Riau Irjen Pol Widodo Eko Prihastopo saat konferensi pers di Mapolda Riau, Kamis, 25 Oktober 2018.


Baca: Polisi Bongkar Pengiriman Sabu dan Ekstasi Dalam Kemasan Abon

Kapolda mengatakan, puluhan kemasan bergambar Abon tersebut tak hanya berisi sabu, tetapi juga ekstasi. Jumlah barang bukti yang disita, yakni sabu seberat 8.867 gram dan 18.070 butir pil ekstasi. "Kasus masih kami kembangkan untuk mengungkap jaringan lain," ujarnya. 



Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto menambahkan, kemasan baru itu terbuat dari bahan alumunium foil. Kemasan tersebut diproduksi di Surabaya lalu dikirim ke Pekanbaru. Narkoba yang ada di tangan dua tersangka selanjutnya dimasukkan ke kemasan tersebut untuk dibawa lagi ke Surabaya. 

"Alumunium foilnya sengaja dibikin agak tebal untuk mengelabui petugas di bandara atau pelabuhan-pelabuhan yang memiliki mesin x-ray. Kemasan seperti ini belum ada di tempat lain. Baru beredar di Pekanbaru," ungkap Susanto. 

Pihaknya masih mengembangkan kasus ini untuk mengungkap jaringan lain. Polresta Pekanbaru, kata Susanto, juga berkoordinasi dengan Polda dan Polresta di wilayah lain untuk mengungkap jaringan yang ditangkap di Provinsi Riau. 

"Upah yang dijanjikan kepada kedua tersangka terbilang besar. Jika barang ini lolos, mereka akan diupah Rp400 juta oleh bandar narkoba. Kasus ini masih terus kami kembangkan untuk mengungkap jaringan yang ada di daerah lain," ujarnya. 



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id