Prada Deri Permana, oknum TNI yang telah membunuh dan memutilasi Fera Oktaria pada 10 Juni 2019 berhasil ditangkap Intel Kodam II Sriwijaya, pada 13 Juni 2019. Dalam rilis di Pomdam Sriwijaya, Prada Deri hanya menunduk dan mengaku menyesali perbuatannya.
Prada Deri Permana, oknum TNI yang telah membunuh dan memutilasi Fera Oktaria pada 10 Juni 2019 berhasil ditangkap Intel Kodam II Sriwijaya, pada 13 Juni 2019. Dalam rilis di Pomdam Sriwijaya, Prada Deri hanya menunduk dan mengaku menyesali perbuatannya. (Lina Herlina)

Oknum TNI Pelaku Mutilasi Ditangkap

mutilasi mayat
Lina Herlina • 14 Juni 2019 19:01
Palembang: Pemutilasi seorang kasir minimarket Fera Oktaria pada 10 Mei 2019 lalu di Palembang, Sumatra Selatan, Prajurit Dua Deri Permana ditangkap Intel Kodam II Sriwijaya. Penangkapan dilakukan pada 13 Juni 2019 saat tersangka berada di padepokan Monghiang Serang Provinsi Banten.
 
Prada Deri yang sudah langsung dibawa ke Palembang guna penyelidikan dan pemeriksaan. Kini, Prada Deri ditahan Pomdam II Sriwijaya. 
 
Kapendam Sriwijaya, Kolonel Inf Djohan Dermawan saat rilis di Pomdam Sriwijaya, Jumat, 14 Juni 2019 mengatakan pelaku terduga kasus pembunuhan Fera ditangkap di Padepokan Monghiang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dia (Prada Deri) kami tangkap setelah mendapatkan informasi yang bersangkutan melarikan diri kesana," ungkap Djohan.
 
Diketahui sebelumnya, Prada Deri diduga membunuh Fera di Penginapan Sahabat Mulia di Jalan PT Hindoli, Kabupaten Musi Banyuasin, pada 10 Mei 2019, sekitar pukul 11.00 WIB. Sementara penyewa kamar diketahui sudah berada di lokasi tersebut sejak Selasa, 7 Mei 2019.
 
Selama pemeriksaan, kata Djohan, diketahui sebelum peristiwa pembunuhan, sempat terjadi cekcok antara Deri dan korban. Cekcok terjadi karena Fera mendesak agar Deri segera menikahi dia.
 
Fera meminta kepastian karena mengaku dalam kondisi hamil. Disisi lain, Deri belum mau menikahi kekasihnya itu karena masih terikat dinas TNI dan sedang masa pendidikan sebagai Siswa Sartaif di Rindam II/Baturaja.
 
Terus didesak, Deri lalu naik pitam dan membekap Fera hingga tewas. Dalam kondisi panik dia pun lalu mencari sebuah alat di penginapan tersebut dan ditemukanlah sebuah gergaji. Dengan alat itu, Deri lalu berupaya ingin memutilasi Fera untuk menghilangkan jejak, namun tidak sampai putus.
 
Hanya sampai di bagian tangannya saja. Kemudian dia keluar Penginapan untuk selanjutnya membeli koper. Deri yang kembali dengan koper sempat dilihat oleh petugas penginapan.
 
"Prosesnya ini singkat, karena pelaku kalut dan tidak siap (untuk segera menikah). Lalu pelaku langsung mendekap korban hingga meninggal dunia. Pelaku sempat ingin menghilangkan jejak dengan memotong-motong bagian tubuh korban, tapi tidak kesampaian," jelas Djohan.
 
Dalam kondisi jiwa kalut, pelaku meninggalkan Penginapan begitu saja, termasuk kendaraan motor yang dipakai. Pelaku melarikan diri dengan menumpangi sebuah bus menuju ke Lampung.
 
Saat berada di dalam bus inilah, Deri nampak mulai menyesali perbuatannya. Dia sempat berkomunikasi dengan penumpang disebelahnya dan mengungkapkan keinginan untuk memperdalam ilmu agama.
 
"Dari sini dia kemudian diarahkan ke Padepokan Monghiang di Banten dan bertemu Syar'i, yang merupakan pimpinan padepokan. Beliau sendiri tidak tahu bahwa yang bersangkutan merupakan oknum yang dicari Kodam II Sriwijaya," terang Djohan.
 
Hingga kini proses penyidikan dari Pomdam masih berlanjut. "Dia sebenarnya ingin menyerahkan diri, tapi takut. Dia juga ingin menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan menyesali perbuatannya," kata dia.
 
Kepada awak media, Deri hanya mengungkapkan permohonan maaf atas aksi pembunuhan tersebut. "Saya sangat menyesal, dan mohon maaf kepada orang tua Fera Oktaria dan seluruh keluarga. Saya mohon maaf," ujar Deri Permana.
 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif