Seorang petani di sedang memperhatikan tanaman padi yang kekeringan, karena kemarau panjang di Aceh, beberapa waktu lalu. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE
Seorang petani di sedang memperhatikan tanaman padi yang kekeringan, karena kemarau panjang di Aceh, beberapa waktu lalu. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE (Antara)

Ratusan Hektare Padi di Aceh Besar Terancam Puso

padi
Antara • 19 Februari 2018 20:34
Banda Aceh: Sebanyak 300 hektare tanaman padi di Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, terancam puso atau gagal panen. Padahal di daerah tersebut wilayah tadah hujan.
 
"Tanaman padi ini terancam puso karena kekeringan sejak beberapa minggu terakhir. Tanaman padi ini berusia satu hingga dua bulan," kata Keuchik atau Kepala Desa Barih Lhok Kecamatan Kuta Cot Glie Muntasir di Aceh Besar, Senin, 19 Februari 2018.
 
Muntasir menyebutkan, kondisi sekarang tanah sawah sudah ada yang retak-retak. Bahkan sebagian ada padi yang berbuah, tetapi tidak ada isi. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Daun juga sudah ada yang mengering. Jika keadaan seperti ini, dikhawatirkan padi berusia satu bulan, padinya tidak berisi atau puso," katanya.
 
Muntasir mengatakan, solusi mengatasi kekeringan ratusan areal persawahan tersebut dengan menggunakan pompanisasi. Sebab, ada sungai yang menjadi sumber airnya.
 
"Pompanisasi sangat dibutuhkan untuk mengatasi kekeringan areal persawahan karena ada sungai yang menjadi sumber air. Jika ini tidak dilakukan, ratusan hektare padi di tempat ini dipastikan gagal panen," kata Muntasir.
 
Muntasir menambahkan sistem pengairan menggunakan pompanisasi sudah pernah diajukan kepada pemerintah daerah. Namun, hingga kini tidak kunjung terealisasi.
 
"Kekeringan seperti ini sudah terjadi berulang kali. Kami juga sudah mengajukan program pompanisasi karena semua areal sawah tadah hujan. Tidak ada hujan, maka tidak ada air," ungkap dia.
 
Muntasir menyebutkan, jika tidak ada bantuan pompanisasi, maka para petani dipastikan mengalami kerugian besar karena gagal panen. Kerugian mencapai Rp5 juta per hektarenya.
 
"Kerugian tersebut sudah termasuk biaya pengolahan tanah, pengadaan bibit dan pupuk, dan operasional lainnya. Kami berharap pemerintah daerah turun tangan membantu petani," pungkas Munasir.

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif